Kebebasan Pers Dunia, LSM: Lapar Siang Malam
- AB Ibrahim
Mungkin ini tetasa pedih, tapi inilah ironi yang harus kita akui bersama. Kita terlalu sibuk marah pada oknum, tapi lupa memperbaiki sebab lahirnya oknum.
Kita teriak soal etika,
tapi membiarkan ekonomi masyarakat tetap tercekik.
Kita ingin LSM bersih,
tapi membiarkan anak-anak muda tidak punya pilihan kerja selain “jadi apa saja yang bisa makan hari ini.”
Padahal kalau kita kembali ke definisinya,
LSM itu bukan tempat berlindung-tapi tempat berjuang.
Bukan alat tekan-tapi alat pendampingan.
Bukan jalan pintas-tapi jalan panjang yang penuh kesabaran.
Artinya, yang harus kita selamatkan bukan hanya citra profesinya,
tapi juga ekosistem yang melahirkannya.
Madura tidak kekurangan orang pintar.
Tidak kekurangan orang berani.
Tidak kekurangan orang yang mau bekerja.
Yang kurang adalah:
akses, kesempatan, dan keberpihakan.
Bayangkan kalau lapangan kerja terbuka lebar,
kalau industri lokal hidup,
kalau petani sejahtera,
kalau anak muda punya pilihan selain “menjadi apa saja demi bertahan.”
Maka profesi akan kembali ke tempatnya.
LSM akan diisi oleh orang yang benar-benar ingin mengabdi.
Jurnalis akan diisi oleh mereka yang mencintai kebenaran, bukan jualan judul yang menakutkan.
Dan kades tidak perlu lagi sembunyi di bawah meja, karena yang datang bukan lagi “lapar siang malam”, tapi benar-benar datang membawa solusi, bukan proposal terselubung.
Kita tidak bisa hanya menyindir.
Kita juga harus membenahi.
Karena kalau dapur masyarakat tetap kosong,
maka jangan heran kalau “idealisme” terus dijual di atas timbangan kiloan.
Dan kalau itu terus dibiarkan,
maka yang rusak bukan hanya profesi-tapi kepercayaan kita sebagai satu masyarakat.
Madura tidak butuh lebih banyak suara keras.
Madura butuh lebih banyak perut yang kenyang,
agar mulut bisa bicara jujur tanpa harus dibayar.
Terakhir saya ingin ucapkan, Selamat Hari Kebebasan Pers Sedunia.
Di era digital di saat semua orang bisa jadi “media”, dimana batas antara fakta dan opini makin tipis.
Di sinilah pers diuji: bukan hanya bebas berbicara, tapi mampu menyajikan kebenaran yang jernih, adil, dan tidak ditunggangi oleh kepentingan pribadi.