Tiga Hari Keran Mati, Warga Sumenep: PDAM Profesional Lah
- Syaiful
Sumenep-, Warga Kecamatan Kota Sumenep, Madura, mulai geram setelah pasokan air bersih dari PDAM terhenti selama tiga hari terakhir tanpa penjelasan yang jelas. Kondisi ini membuat aktivitas masyarakat lumpuh, mulai dari mandi, mencuci hingga memasak. Ironisnya, di tengah keluhan warga yang semakin memuncak, pihak PDAM justru dinilai memilih diam seribu bahasa.
Keluhan datang dari berbagai wilayah di Kecamatan Kota Sumenep. Salah satunya disampaikan Fatimatus Suhra. Ia mengaku selama tiga hari terakhir terpaksa menumpang ke rumah kerabat hanya untuk kebutuhan dasar sehari-hari.
“ Kami sangat kesulitan. Untuk mandi, mencuci sampai memasak saja bingung. Yang bikin kecewa itu karena tidak ada pemberitahuan sama sekali. Tiba-tiba air mati begitu saja,” ungkapnya, Minggu (18/5/2026).
Menurutnya, masyarakat sebenarnya bisa memahami apabila terjadi gangguan teknis. Namun yang membuat warga kesal adalah minimnya komunikasi dari pihak PDAM kepada pelanggan yang rutin membayar tagihan setiap bulan.
Keluhan serupa juga disampaikan Ahmad Ibrahim, warga Desa Pamolokan. Ia menyebut pelayanan PDAM saat ini jauh dari kata profesional. Menurutnya, pelanggan hanya dituntut disiplin membayar tagihan, tetapi ketika layanan bermasalah, masyarakat justru dibiarkan menebak-nebak sendiri penyebabnya.
“ Kerja yang profesional lah. Air ini kebutuhan pokok masyarakat, bukan layanan tambahan. Kalau masyarakat telat bayar langsung kena denda, tapi giliran air mati sampai tiga hari seperti ini, PDAM malah diam. Direkturnya kerja apa sebenarnya?” sindir Ahmad dengan nada kesal.
Kondisi ini memunculkan kritik tajam dari masyarakat terhadap kinerja PDAM Sumenep yang dianggap lamban dalam memberikan informasi maupun solusi darurat. Warga menilai, di era media sosial dan teknologi komunikasi saat ini, pemberitahuan gangguan distribusi air seharusnya bisa dilakukan dengan mudah dan cepat.
Alih-alih memberikan penjelasan resmi atau menyiapkan bantuan suplai air bersih, PDAM justru dianggap seperti menghilang tanpa jejak. Akibatnya, warga harus mencari alternatif sendiri demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sejumlah warga bahkan mulai mempertanyakan keseriusan manajemen PDAM dalam memberikan pelayanan publik. Sebab, persoalan air bersih bukan sekadar soal fasilitas, melainkan kebutuhan vital masyarakat.