Madura Never Die: Harga Diri, Loyalitas, dan Semangat yang Tak Pernah Padam
- Veros Afif MZ
Apakah Madura akan terus bergantung pada sepak bola untuk merasa bersatu?
Apakah kita hanya solid ketika ada pertandingan, dan kembali tercerai ketika peluit panjang dibunyikan dalam kehidupan nyata?
Inilah pertanyaan yang lebih penting dari skor akhir.
Karena sejatinya, yang sedang diperjuangkan bukan hanya posisi di klasemen. Tetapi posisi Madura dalam peta besar Indonesia.
Kita adalah tanah yang melahirkan tokoh-tokoh besar:
Syaikhona Kholil bin Abdul Latif (Bangkalan): Ulama besar dan guru dari pendiri organisasi Islam terbesar di Indonesia (seperti NU dan Muhammadiyah) yang juga dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.
Mohammad Tabrani (Pamekasan): Tokoh pers, pejuang kemerdekaan, dan Ketua Kongres Pemuda I yang dikenal luas sebagai penggagas bahasa Indonesia.
Pangeran Trunojoyo (Sampang): Bangsawan Madura yang memimpin pemberontakan besar-besaran terhadap penjajahan VOC dan Mataram pada abad ke-17.
Mahfud MD. Ketua Mahkamah Agung. Ketua Banggar DPR RI.
Kita juga tanah yang menyuplai energi bagi negeri ini-migas yang mengalir, menerangi kota-kota yang bahkan tidak pernah mengenal kerasnya tanah garam.
Tetapi ironisnya, di saat yang sama, Madura masih sering ditempatkan di pinggiran.
Di sinilah peran Achsanul Qosasi menjadi penting-bukan sebagai pemilik klub, tetapi sebagai arsitek kesadaran.
Ia memahami satu hal yang sering dilupakan: bahwa kemajuan tidak dimulai dari proyek, tetapi dari cara berpikir.
Bahwa kemandirian tidak lahir dari bantuan seratus ribuan, tetapi dari keberanian untuk berdiri.
Dan bahwa kehormatan tidak datang dari jabatan, tetapi dari kemampuan menjaga martabat kolektif.
Sepak bola hanyalah pintu masuk. Di baliknya, ada gagasan yang jauh lebih besar: Madura Maju. Madura Mandiri. Madura sebagai tiang kokoh negara.
Namun, gagasan akan tetap menjadi wacana jika hanya berhenti pada satu orang.
Madura tidak kekurangan tokoh. Yang kurang adalah kesediaan untuk berjalan bersama tanpa saling menjatuhkan.
Hari ini, kita bersorak karena Madura United selamat.
Besok, pertanyaannya berbeda:
apakah Madura juga akan selamat dari kemiskinan struktural, dari ketergantungan, dari konflik internal yang seringkali kita pelihara sendiri?
Jika jawabannya tidak, maka kemenangan hari ini hanyalah penundaan dari kekalahan yang lebih besar.