Kematian Misterius Prajurit TNI AL di KRI, Versi Bunuh Diri Dibantah Keluarga
- Abdur Rahem
Surabaya-, Kematian anggota TNI Angkatan Laut, Kelasi Ghofirul Kasyfi (22), warga Kelurahan Kemayoran, Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur, memicu tanda tanya besar di tengah keluarga dan masyarakat. Prajurit muda tersebut ditemukan meninggal dunia di dalam kamar kapal KRI dr. Radjiman Wedyodiningrat, dengan kondisi yang hingga kini masih menyisakan polemik.
Pihak TNI AL melalui Komando Armada I akhirnya buka suara terkait insiden tersebut. Dalam keterangan resminya, TNI AL menyebut bahwa kematian Ghofirul Kasyfi disebabkan oleh bunuh diri, bukan akibat tindakan kekerasan atau penyiksaan oleh senior seperti yang sempat beredar di publik.
Kepala Dinas Penerangan Koarmada I, Kolonel Laut (P) Ary Mahayasa, menjelaskan bahwa kesimpulan tersebut didasarkan pada hasil visum et repertum resmi dari Rumah Sakit Pusat Angkatan Laut (RSPAL) dr. Mintohardjo, Jakarta, tertanggal 26 April 2026. Dari hasil pemeriksaan medis, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan benda tumpul pada tubuh korban.
“Tidak ditemukan adanya pendarahan di area sensitif sebagaimana informasi yang sempat beredar. Proses visum juga disaksikan oleh pihak keluarga dari garis ibu,” ujar Ary dalam rilis resminya.
Lebih lanjut, Ary menjelaskan bahwa lebam yang terlihat pada tubuh korban sebelum pemakaman merupakan livor mortis, yakni fenomena alamiah pasca kematian akibat berhentinya sirkulasi darah sehingga sel darah merah mengendap di bagian tubuh terendah karena pengaruh gravitasi.
Sementara itu, luka pada bagian leher korban disebut sebagai luka tekan melingkar yang disertai pengelupasan kulit ari. Secara medis, pola luka tersebut dinilai identik dengan kasus gantung diri. Berdasarkan temuan tersebut, TNI AL menyimpulkan bahwa penyebab kematian Ghofirul Kasyfi murni akibat bunuh diri.
Namun, pernyataan resmi tersebut tidak serta-merta meredakan kecurigaan pihak keluarga. Melalui kuasa hukumnya, keluarga korban secara resmi mengajukan permohonan autopsi ulang kepada Koarmada I guna memastikan penyebab pasti kematian.
Kuasa hukum keluarga, Muhammad Sholeh, mengungkapkan bahwa sejumlah kejanggalan ditemukan saat jenazah korban tiba di rumah duka. Ketika kain kafan dibuka, keluarga mendapati adanya lebam di beberapa bagian tubuh, serta luka di area kemaluan yang dinilai tidak wajar.
“Temuan itu menimbulkan dugaan adanya tindak kekerasan yang dialami korban sebelum meninggal,” kata Sholeh.
Selain itu, pihak keluarga juga mengaku belum menerima berita acara serah terima jenazah yang memuat kronologi lengkap sebagaimana disampaikan oleh pihak TNI AL. Ketiadaan dokumen tersebut semakin memperkuat alasan keluarga untuk terus mempertanyakan penyebab kematian Ghofirul Kasyfi.
Kasus ini kini menjadi perhatian publik, khususnya di Bangkalan dan Madura secara umum. Desakan agar dilakukan investigasi transparan dan menyeluruh terus menguat, demi mengungkap fakta sebenarnya di balik kematian prajurit muda tersebut.
Hingga saat ini, pihak TNI AL menyatakan terbuka terhadap proses lanjutan, termasuk permintaan autopsi ulang. Sementara keluarga berharap, kebenaran dapat terungkap secara jelas tanpa ada yang ditutup-tutupi.(rhm)