Begini Ketika 'GARAM MADURA MANIS'

Dirut PT Garam, Abraham Mose (kiri), Haji Her (tengah, Achsanul Qosasi (kanan)
Sumber :
  • AB Ibrahim

Surabaya-, Oleh Fauzi As

Misteri Motor Terlantar di Suramadu Terkuak, Pemiliknya Ditemukan Tewas

"Ketika Garam Tak Lagi Asin bagi Petani"

Di negeri yang dikelilingi laut, petani garam justru sering hidup lebih asin daripada garam yang mereka panen sendiri.

Kematian Misterius Prajurit TNI AL di KRI, Versi Bunuh Diri Dibantah Keluarga

 

Setiap musim datang, mereka menatap langit dengan doa. Ketika matahari terlalu malu muncul, garam gagal. Ketika produksi melimpah, harga jatuh.

Kematian Prajurit TNI AL Sisakan Tanda Tanya dan Bekas Lebam

 

Ketika harga naik, yang menikmati sering kali bukan petani. Dan seperti biasa, yang paling pandai berenang di tengah lautan keuntungan adalah tengkulak dan pemain besar yang bahkan sandalnya jarang menginjak tambak.

 

Madura sudah terlalu lama menjadi pulau penghasil garam yang paradoks. Garamnya masuk dapur nasional, tapi petaninya sering tidak mampu membeli harga hidup yang layak.

 

Karena itu, pertemuan di Botonika Surabaya pada 5 Mei 2026 kemarin terasa berbeda. Untuk pertama kalinya, publik melihat ada upaya serius yang bukan sekadar seminar penuh spanduk, bukan sekadar pidato nasionalisme garam sambil makan seafood hotel berbintang.

 

Direktur Utama PT Garam 

"Abraham Mose." Ia merupakan eks Dirut PT Pindad yang kini fokus memimpin PT Garam. Mengambil langkah yang bagi sebagian orang mungkin dianggap tidak biasa: menggandeng pengusaha putra daerah.

 

Dan nama itu adalah H. Her.

Sebagian orang mengenalnya sebagai pengusaha tembakau. Sebagian lagi mengenalnya sebagai sosok kontroversial. 

 

Tapi satu hal yang sulit dibantah: hampir setiap sektor yang disentuhnya selalu diarahkan pada satu narasi besar-bagaimana petani tidak terus menjadi kelompok paling lemah dalam rantai ekonomi.

 

Kini, misi itu merambah dunia garam.

Banyak pejabat bicara hilirisasi sambil memegang mikrofon. Tapi petani tidak butuh kata “hilirisasi”. Mereka butuh harga yang tidak mempermalukan keringat mereka sendiri.

 

Di sinilah ide “teknologi pemanis garam” mulai menarik. Bukan memaniskan rasa garamnya. Tapi memaniskan nasib petaninya.

 

Karena selama ini yang terjadi justru sebaliknya: garam rakyat dibeli murah, dicampur, dikemas ulang, diputihkan, lalu dijual berkali-kali lipat oleh industri.

Dan petani hanya mendapat sisa asin di ujung cerita.

 

Maka ketika muncul skema penyerapan langsung garam rakyat, pengolahan menjadi garam konsumsi dan industri pangan, serta rencana pemanfaatan aset PT Garam di Camplong, publik mulai melihat sesuatu yang selama ini hilang: keberpihakan.

Halaman Selanjutnya
img_title