Sosok Jenderal Inspiratif Yang Tak Menunggu Telepon
- Veros Afif
Di Matanair waktu itu, saya melihat matanya lebih banyak memandang masa depan desa daripada sibuk membicarakan dirinya sendiri.
Ia berbicara tentang inisiatif. Tentang membaca arah sebelum diperintah. Tentang bagaimana seorang prajurit seharusnya tidak menjadi robot birokrasi.
Dan terus terang, ucapan itu terasa semakin mahal di negeri yang terlalu banyak dipenuhi mental “asal bapak senang”.
Karena faktanya, banyak pemimpin hari ini lebih takut kepada atasan daripada takut mengecewakan rakyat.
Banyak yang sibuk mencari aman.
Sedikit yang berani mengambil langkah.
Brigjen Kohir tampaknya memilih jalan kedua.
Mungkin itulah sebabnya ia dipercaya menduduki wilayah strategis seperti Korem 084/Bhaskara Jaya Surabaya. Sebab Surabaya bukan wilayah biasa. Ia adalah pusat ekonomi, pemerintahan, dan denyut penting Jawa Timur.
Jabatan itu membutuhkan bukan hanya ketegasan militer, tetapi juga kecerdasan membaca situasi sosial masyarakat.
Dan dari percakapan sederhana di gazebo Matanair itu, saya menangkap satu hal:
Brigjen Kohir bukan tipe pemimpin yang menunggu masalah datang ke meja. Ia lebih memilih mendatangi realitas sebelum realitas berubah menjadi ancaman.
Menariknya lagi, pada 17 Mei kemarin beliau genap berusia 49 tahun.
Usia yang sebenarnya masih sangat produktif bagi seorang perwira tinggi.
Tetapi jika umur dihitung dari ritme kerja, tekanan tugas, dan sedikitnya waktu istirahat, mungkin “usia pengabdiannya” sudah jauh lebih tua dari angka di kartu identitas.
Sebab banyak jenderal tidur delapan jam.
Tetapi ada juga jenderal yang tidur sambil tetap memikirkan wilayahnya.
Dan Brigjen Kohir tampaknya masuk golongan kedua. Beliau sendiri pernah bercerita bagaimana pentingnya memahami karakter pimpinan. Terutama ketika berbicara tentang Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Rudy Saladin.
“Beliau pekerja keras dan disiplin,”
katanya menjelaskan sosok pimpinannya.
Dari sana saya memahami satu hal: disiplin ternyata menular. Etos kerja juga menular.
Ketika pimpinan di atas memiliki ritme kerja tinggi, maka bawahannya dipaksa ikut bergerak cepat.
Tidak ada ruang terlalu lama untuk bermalas-malasan, menunda pekerjaan, atau hanya sibuk membuat laporan pencitraan. Dan mungkin itu sebabnya Brigjen Kohir terlihat mampu beradaptasi dengan berbagai karakter kepemimpinan tanpa kehilangan jati dirinya sebagai prajurit lapangan.