Sosok Jenderal Inspiratif Yang Tak Menunggu Telepon
- Veros Afif
Surabaya-, Oleh Fauzi As
Kemarin saya duduk satu gazebo dengan Brigjen TNI Kohir. Bukan di ruang rapat mewah.
Bukan di hotel berbintang.
Tetapi di sebuah gazebo sederhana di Desa Matanair, Kabupaten Sumenep. Di tengah kawasan integrated farming, di antara tanah, rumput, ternak, dan mimpi-mimpi kecil masyarakat desa yang sering tak terdengar negara.
Di tempat sederhana itu, saya melihat sesuatu yang mulai langka pada banyak pejabat hari ini: seorang pemimpin yang bekerja dengan insting dan hati.
Beliau berbicara banyak hal. Tentang tugas. Tentang rakyat. Tentang bagaimana seorang pemimpin tidak boleh bekerja hanya karena diperintah.
Kalimatnya sederhana, tetapi menampar:
“Jangan sampai ditanya oleh pimpinan.”
Lalu ia melanjutkan:
“Kita harus memahami keinginan pimpinan apa lagi searah dengan kebutuhan rakyat.”
Kalimat itu terdengar biasa. Tetapi di negeri yang terlalu banyak pejabat bekerja setelah ditegur, ucapan itu terasa seperti tamparan keras.
Hari ini kita hidup di zaman ketika banyak orang baru bergerak setelah ada surat. Setelah ada tekanan. Setelah viral. Setelah dimarahi atasan. Bahkan ada yang bekerja hanya demi laporan dan dokumentasi.
Tetapi Brigjen Kohir tampaknya berbeda.
Ia terlihat memahami bahwa tugas bukan sekadar menjalankan perintah, melainkan membaca keadaan sebelum keadaan berubah menjadi masalah.
Mungkin itu sebabnya karier militernya terus naik hingga resmi menyandang pangkat Brigadir Jenderal dan dipercaya menjadi Danrem 084/Bhaskara Jaya Surabaya menggantikan Brigjen TNI Danny Alkadrie.
Namun bagi saya, pangkat bukan bagian paling menarik dari dirinya.
Yang menarik justru cara berpikirnya.
Di tengah kultur birokrasi yang sering lambat, Brigjen Kohir tampak memiliki pola kerja teritorial yang hidup. Ia tidak memandang rakyat sebagai objek seremoni, tetapi sebagai denyut utama pengabdian.
Selama memimpin Korem 083/Baladhika Jaya Malang, ia dikenal humanis, komunikatif, dan aktif membangun pendekatan persuasif dengan masyarakat. Ia mendorong prajurit hadir di tengah persoalan sosial, bukan sekadar menjaga barak dan rutinitas administratif.
Dan mungkin di situlah letak kekuatannya.
Ia memahami bahwa keamanan bukan hanya soal senjata, tetapi juga soal perut rakyat, ketahanan sosial, pertanian, ekonomi desa, hingga rasa percaya masyarakat kepada negara.