Ketika “Penjahat” Bernama Prabowo

Fauzi as, tokoh muda Madura, Madura Never Die: Harga Diri, Loyalitas, dan Semangat yang Tak Pernah Padam
Sumber :
  • Veros Afif MZ

 

img_title Dua Oknum Bides di Sumenep Diduga Selewengkan MBG Balita dan Insentif Ompreng

Namun di sisi lain, kita harus berhati-hati agar kemarahan terhadap oknum tidak berubah menjadi kebencian terhadap negara.

 

img_title Korwil BGN Pamekasan Diperiksa 8 Jam, Dugaan Suap dan Pungli SPPG Diselidiki

Di sinilah jebakan yang sering tidak disadari. Ada pihak yang ingin rakyat marah kepada koruptor, dan itu wajar. Tetapi ada juga yang ingin rakyat marah kepada negaranya sendiri. Ini yang berbahaya.

 

img_title LAGI! Puluhan Siswa Keracunan MBG di Bangkalan, Korban Bertambah Jadi 52 Orang

Di ruang digital, pola adu domba semakin mudah ditemukan. Rakyat diadu dengan rakyat. Ulama diadu dengan ulama. TNI diadu dengan Polri. Lembaga negara diadu dengan lembaga negara. Pendukung pemerintah diadu dengan pengkritik pemerintah.

 

Padahal yang paling diuntungkan dari kekacauan adalah mereka yang selama ini menikmati situasi tersebut. Bangsa yang terpecah akan jauh lebih mudah dilemahkan daripada bangsa yang bersatu.

 

Saya teringat pernyataan Achsanul Qosasi dalam rapat paripurna DPR pada 17 Juni 2013 saat membahas kenaikan harga BBM. Saat itu ia mengatakan bahwa “tidak ada satu Presiden pun yang ingin menyengsarakan rakyatnya.”

 

Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung pelajaran penting. Kita boleh tidak setuju dengan kebijakan Presiden. Kita boleh mengkritik keputusan pemerintah. Kita juga boleh menolak program yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat.

 

Namun kita juga harus memahami bahwa tidak semua kebijakan lahir dari niat jahat. Sering kali pemerintah berada dalam posisi yang serba sulit. Sebuah keputusan bisa mengundang kritik ketika diambil, tetapi juga menuai kritik ketika tidak diambil.

 

Dalam pembahasan BBM saat itu, Achsanul menjelaskan bahwa sebagian besar subsidi justru dinikmati kelompok yang tidak berhak dan sebagian lainnya bocor melalui penyelundupan. Artinya, persoalan yang terlihat sederhana sering kali memiliki akar masalah yang jauh lebih kompleks.

 

Karena itu bangsa ini membutuhkan kritik yang berbasis data, bukan kebencian yang berbasis prasangka.

 

Kita membutuhkan keberanian untuk melawan korupsi, bukan keberanian untuk menghancurkan persatuan. Kita membutuhkan rakyat yang kritis, bukan rakyat yang mudah diprovokasi. Kita membutuhkan pengawasan terhadap pemerintah, bukan permusuhan terhadap negara.

 

Saya percaya Indonesia masih memiliki banyak persoalan. Namun saya juga percaya bangsa ini masih memiliki harapan.

Halaman Selanjutnya
img_title