1.022 Porsi MBG Mentah di Pamekasan Ditolak Mentah-mentah

Salah satu guru menunjukan ikan lele mentah dalam kemasan MBG Pamekasan
Sumber :
  • Riski

Pamekasan-, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang sebagai upaya meningkatkan kualitas gizi pelajar justru menjadi bahan perbincangan publik. Di Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur, sebanyak 1.022 porsi menu MBG berisi ikan lele mentah ditolak pihak sekolah setelah dinilai tidak layak dikonsumsi siswa.

Gerebek Rumah di Tragah Bangkalan, Polisi Tangkap 2 Pengedar Sabu Residivis

 

Peristiwa tersebut viral di media sosial melalui video berdurasi 2 menit 39 detik yang memperlihatkan paket makanan berisi ikan lele mentah, dua iris tahu, dan tempe. Paket tersebut disalurkan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) As-Salman, Desa Buddagan, Kecamatan Pademawu.

Ngabuburit Favorit di Bangkalan, Pesona Long Gledek Ramai Pengunjung Saat Ramadan

 

Namun alih-alih menjadi santapan bergizi bagi para pelajar, menu tersebut justru memunculkan tanda tanya. Pasalnya, ikan lele yang dibagikan belum dibersihkan, bahkan beberapa di antaranya masih terlihat hidup dan bergerak di dalam kemasan.

Pasar Takjil Bangkalan Banjir, Pedagang Terpaksa Bawa Pulang Dagangan

 

Menu MBG tersebut akhirnya ditolak oleh SMAN 2 Pamekasan pada Senin (9/3/2026). Pihak sekolah menilai kondisi makanan tidak layak untuk dibagikan kepada siswa.

 

Kepala SMAN 2 Pamekasan, Moh Arifin, membenarkan adanya penolakan tersebut. Ia mengatakan paket makanan yang diterima sekolah mengeluarkan bau amis yang cukup menyengat.

 

“Menu itu isinya dua iris tempe dan tahu. Ikan lelenya mentah, bahkan ada yang masih hidup bergerak hingga baunya sangat amis,” kata Arifin.

 

Menurutnya, sekolah memutuskan untuk mengembalikan seluruh paket MBG karena khawatir akan berdampak pada kesehatan siswa jika tetap dibagikan.

 

“Kalau dibiarkan beberapa waktu saja di sekolah, kami khawatir akan membusuk. Karena baunya menyengat, siswa juga tidak bersedia menerimanya,” ujarnya.

 

Total 1.022 porsi paket MBG akhirnya tidak dibagikan kepada siswa dan dikembalikan kepada pihak penyalur.

 

Kejadian ini memunculkan kritik dari masyarakat. Program yang seharusnya memastikan siswa mendapatkan makanan bergizi siap konsumsi, justru dinilai masih menyisakan persoalan pada aspek pengolahan dan distribusi makanan.

 

Di tengah semangat memperbaiki kualitas gizi generasi muda, publik pun mempertanyakan standar kelayakan makanan yang diberikan kepada pelajar.

 

Sementara itu, Ahli Gizi SPPG As-Salman, Fikri Mutawakkil, mengakui bahwa pihaknya memang menyalurkan lele mentah yang telah dimarinasi. Menurutnya, cara tersebut dinilai masih memiliki kandungan gizi yang tinggi.

 

“Kami meminta maaf atas kejadian ini. Ke depan tentu akan menjadi bahan evaluasi agar pelaksanaan program bisa lebih baik,” kata Fikri.

 

Peristiwa ini