Madura Never Die: Harga Diri, Loyalitas, dan Semangat yang Tak Pernah Padam

Fauzi as, tokoh muda Madura, Madura Never Die: Harga Diri, Loyalitas, dan Semangat yang Tak Pernah Padam
Sumber :
  • Veros Afif MZ

Madura-, Oleh: Fauzi As

img_title Inspiratif, Dua Bocil Bongkar Tabungan Celengan Berbuah Kambing Kurban

Hari ini, banyak orang mengira ini hanya tentang sepak bola. Tentang 90 menit pertandingan. Tentang skor 2-0. Tentang selamat atau tidaknya sebuah klub bernama Madura United.

 

img_title Tumpahan Solar Bongkar Sindikat BBM Ilegal di Madura

Padahal tidak sesederhana itu.

Hari ini adalah hari di mana jantung Madura berdegup lebih kencang dari biasanya. Bukan karena bola bergulir, tetapi karena harga diri sedang dipertaruhkan.

img_title Pencuri HP di Supermarket Bangkalan Tertangkap Usai Tabrak Mobil

 

Saya memilih tidak datang ke stadion. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena terlalu peduli. Ada momen ketika seseorang lebih memilih menjaga hatinya dari kemungkinan patah, daripada menyaksikan langsung kehancuran yang tak siap ia terima.

 

Bayangkan jika hari ini Madura United benar-benar tumbang.

 

Yang runtuh bukan hanya klub. Yang retak bukan hanya manajemen. Tetapi juga semangat kolektif yang selama ini diam-diam dirawat: bahwa orang Madura bisa bersatu tanpa harus berhadapan, bisa kompak tanpa harus carok, bisa dihormati tanpa harus ditakuti.

 

Selama bertahun-tahun, Madura terlalu sering didefinisikan oleh stigma. Keras, kasar, penuh konflik. Seolah-olah identitas itu diwariskan, bukan dibentuk oleh keadaan.

 

Di tengah narasi itu, sepak bola menjadi panggung perlawanan yang paling sunyi namun paling elegan.

 

Dan di balik panggung itu, ada satu nama yang tidak pernah lelah menghidupkan harapan: Achsanul Qosasi.

 

Sejak 2009, saya mendengar sendiri bagaimana ia berbicara tentang Madura. Tidak pernah setengah hati. Tidak pernah basa-basi. Selalu utuh. Selalu penuh keyakinan.

 

Baginya, Madura bukan sekadar pulau. Ia adalah potensi yang lama diparkir. Ia adalah kekuatan yang belum sepenuhnya dibangunkan.

 

Sepak bola, dalam pandangannya, bukan hiburan. Ia adalah alat. Alat untuk menguji solidaritas. Alat untuk mengukur sportivitas. Alat untuk membalik stigma.

 

Dan hari ini, alat itu bekerja.

Madura United tidak tamat. Ia bertahan. Menang 2-0. Bukan kemenangan yang gemerlap, tetapi kemenangan yang menyelamatkan wajah.

 

Dua gol Junior Brandao bukan sekadar angka. Ia seperti dua napas panjang yang dilepaskan bersamaan oleh jutaan orang Madura-yang sejak tadi menahan cemas, menahan takut, menahan kemungkinan terburuk.

 

Namun, justru di titik inilah kita harus jujur.

Halaman Selanjutnya
img_title