Mari Kita Buat MR Ball yang Lebih Megah

Ruangan yang disinyalir tempat hiburan malam dengan menyediakan miras
Sumber :
  • AB Ibrahim

 

img_title KTP Tak Kunjung Terbit, Warga Keluhkan Pelayanan Kecamatan Galis

“Yang mereka tanam bertahun-tahun bisa dicabut hanya dalam beberapa malam,” tulisnya.

 

img_title Dua Oknum Bides di Sumenep Diduga Selewengkan MBG Balita dan Insentif Ompreng

Penulis juga mengangkat sisi emosional kehidupan para orang tua. Ia menggambarkan seorang ayah yang menunggu anaknya pulang hingga menjelang Subuh, bukan karena sedang beribadah, melainkan karena cemas terhadap pergaulan anaknya. Kecemasan itu, menurutnya, tidak pernah masuk dalam laporan pertumbuhan ekonomi ataupun dokumen pembangunan daerah.

 

img_title Korwil BGN Pamekasan Diperiksa 8 Jam, Dugaan Suap dan Pungli SPPG Diselidiki

Melalui narasi panjang tersebut, penulis ingin menegaskan bahwa kemajuan sebuah daerah tidak hanya diukur dari banyaknya bangunan, lampu, atau fasilitas hiburan. Lebih dari itu, pembangunan juga harus memperhatikan kualitas moral, karakter, dan arah kehidupan generasi mudanya.

 

Di bagian akhir, satire itu mencapai puncaknya ketika penulis mengajak masyarakat untuk mendukung pembangunan tempat hiburan yang lebih besar, lebih megah, bahkan lebih terkenal daripada pesantren, masjid, dan sekolah. Namun ajakan tersebut sesungguhnya merupakan kritik terhadap kondisi yang dianggap mulai mengabaikan nilai-nilai sosial dan keagamaan.

 

Pesan utama yang ingin disampaikan cukup jelas: sebuah daerah tidak akan kehilangan masa depannya karena kekurangan gedung atau tempat hiburan, tetapi bisa mengalami kemunduran ketika kehilangan keberanian untuk menjaga generasi mudanya sendiri.

 

Tulisan itu kini kembali menjadi bahan perbincangan di media sosial. Sebagian menilai sebagai kritik sosial yang tajam, sementara yang lain menganggapnya sebagai bentuk kekhawatiran terhadap perubahan budaya dan arah pembangunan di Sumenep. Yang pasti, diskusi mengenai keseimbangan antara hiburan, budaya, dan nilai-nilai masyarakat kembali mengemuka di ruang publik.