Mari Kita Buat MR Ball yang Lebih Megah
- AB Ibrahim
Sumenep-, Oleh: Fauzi As
SUMENEP – Tulisan yang sebelumnya menuai kontroversi terkait keberadaan tempat hiburan malam di Sumenep kembali mendapat respons dari publik. Namun kali ini, kritik yang disampaikan dikemas dalam bentuk satire tajam yang menyentil arah pembangunan, nilai sosial, hingga masa depan generasi muda di Kota Keris.
Dalam tulisan tersebut, penulis seolah mengoreksi pandangannya sendiri setelah menerima banyak komentar yang menilai keberadaan tempat hiburan malam seperti MR Ball tidak perlu dipersoalkan. Bahkan, dengan nada sindiran, ia mengajak masyarakat untuk mendukung penuh keberadaan hiburan malam tersebut.
“Kalau hari ini pemerintah hanya diam dan membiarkan, maka mulai besok mari kita minta pemerintah lebih serius. Jangan hanya memberi izin, mari anggarkan,” tulisnya.
Sindiran itu kemudian berkembang dengan usulan imajiner agar pemerintah memasukkan program “Peningkatan Daya Saing Hiburan Malam Daerah” ke dalam APBD. Menurut narasi tersebut, jika pembangunan selama ini identik dengan jalan, jembatan, sekolah, pesantren, dan irigasi, maka hiburan malam pun dianggap layak menjadi bagian dari prioritas pembangunan.
Penulis bahkan menyamakan panggung DJ, lampu strobo, dan dentuman musik keras sebagai simbol kemajuan yang patut dibanggakan. Dengan gaya satir, ia mempertanyakan mengapa stadion, taman kota, dan sektor pariwisata bisa memperoleh anggaran negara, sementara hiburan malam tidak.
Kritik semakin tajam ketika identitas Sumenep sebagai Kota Keris dan Kota Santri disinggung. Dalam tulisannya, penulis membayangkan slogan baru yang lebih “jujur”, yakni “Kota yang Tidak Pernah Tidur”, sebagai sindiran terhadap perubahan orientasi nilai yang dianggap mulai bergeser.
Tak berhenti di situ, ia juga menggambarkan masa depan yang ironis. Anak-anak sekolah tidak lagi ditanya tentang hafalan surat Al-Qur’an atau cita-cita mereka, melainkan lagu remix favorit dan tempat hiburan yang sering dikunjungi. Gambaran itu dimaksudkan sebagai kritik terhadap kekhawatiran lunturnya nilai pendidikan dan moral di tengah arus hiburan modern.
Sorotan lain diarahkan kepada para kiai dan pengasuh pesantren yang selama puluhan tahun membimbing masyarakat. Menurut tulisan tersebut, perjuangan mereka dalam menanamkan adab, rasa malu, dan nilai agama seakan kalah bersaing dengan hiburan yang menawarkan kesenangan instan.
“Yang mereka tanam bertahun-tahun bisa dicabut hanya dalam beberapa malam,” tulisnya.
Penulis juga mengangkat sisi emosional kehidupan para orang tua. Ia menggambarkan seorang ayah yang menunggu anaknya pulang hingga menjelang Subuh, bukan karena sedang beribadah, melainkan karena cemas terhadap pergaulan anaknya. Kecemasan itu, menurutnya, tidak pernah masuk dalam laporan pertumbuhan ekonomi ataupun dokumen pembangunan daerah.
Melalui narasi panjang tersebut, penulis ingin menegaskan bahwa kemajuan sebuah daerah tidak hanya diukur dari banyaknya bangunan, lampu, atau fasilitas hiburan. Lebih dari itu, pembangunan juga harus memperhatikan kualitas moral, karakter, dan arah kehidupan generasi mudanya.
Di bagian akhir, satire itu mencapai puncaknya ketika penulis mengajak masyarakat untuk mendukung pembangunan tempat hiburan yang lebih besar, lebih megah, bahkan lebih terkenal daripada pesantren, masjid, dan sekolah. Namun ajakan tersebut sesungguhnya merupakan kritik terhadap kondisi yang dianggap mulai mengabaikan nilai-nilai sosial dan keagamaan.
Pesan utama yang ingin disampaikan cukup jelas: sebuah daerah tidak akan kehilangan masa depannya karena kekurangan gedung atau tempat hiburan, tetapi bisa mengalami kemunduran ketika kehilangan keberanian untuk menjaga generasi mudanya sendiri.
Tulisan itu kini kembali menjadi bahan perbincangan di media sosial. Sebagian menilai sebagai kritik sosial yang tajam, sementara yang lain menganggapnya sebagai bentuk kekhawatiran terhadap perubahan budaya dan arah pembangunan di Sumenep. Yang pasti, diskusi mengenai keseimbangan antara hiburan, budaya, dan nilai-nilai masyarakat kembali mengemuka di ruang publik.