Matinya Dialektika Mahasiswa di Tangan Senior dan Kekuasaan

Mahmudi, aktivis muda asal Bangkalan
Sumber :

Opini : Mahmudi/aktivis muda

Santriwati di Bangkalan Dicabuli, DKBP3A Pastikan Korban Alami Trauma Berat

Di warung kopi, kita sering mendengar keluhan mahasiswa tentang kampus yang katanya ruang bebas, tetapi diam-diam penuh pagar tak terlihat. Dialektika yang dulu lahir dari keberanian bertanya kini perlahan mati sebelum sempat tumbuh. Bukan oleh negara, bukan oleh birokrasi, tapi oleh tangan senior sendiri.

 

Tabrak Pohon, Bus Mini Muat Durian Terguling di Bangkalan

Senior yang mestinya menjadi kakak pikiran, berubah menjadi pengawas wacana. Ia menentukan mana yang boleh diperdebatkan, mana yang harus diam, dan siapa yang pantas bicara, dialektika pun tak berjalan; hanya monolog yang diberi panggung.

 

Ternyata Ini Penyebab Warga Pamekasan Berburu Emas Diselokan

Di sini, kekuasaan menjelma seperti asap kopi: tak terlihat bentuknya, tapi menguasai ruangan. Mahasiswa baru belajar membaca, tapi sudah diajari siapa yang tak boleh dikritik, mereka disuruh loyal bahkan sebelum tahu apa yang dibela.

 

Warung kopi mengajarkan satu hal sederhana: suara siapa pun boleh mengalir, tak peduli muda atau tua. Tapi di kampus, aliran itu dibendung, kritik dianggap pembangkangan, perbedaan dianggap ancaman.

 

Dialektika mati bukan karena mahasiswa kehilangan akal, tapi karena keberanian untuk berbeda dirampas secara halus dan kampus yang semestinya menjadi rumah pikiran, berubah menjadi panggung peran: siapa senior, siapa junior, siapa yang harus mendengar, siapa yang harus patuh.

 

Dalam situasi seperti ini, warung kopi menjadi lebih universitas daripada universitas itu sendiri. Selain dialektika mahasiswa mati perlahan tambah kompleks, bukan hanya oleh senior dan kekuasaan, tapi juga oleh salah paham tentang filsafat. Banyak mahasiswa merasa filsafat itu berat seberat debat berjam-jam di sekret dengan wajah tegang dan suara meninggi. Padahal yang berat seringkali bukan filsafatnya, tapi atmosfernya: ruang yang penuh hierarki, bukan penuh pertanyaan.

 

Di warung kopi, filsafat tidak pernah terasa seperti beban, justru ia muncul seperti obrolan ringan yang mengalir bersama asap rokok. Di sana, tak ada senior yang memonopoli kebenaran, tidak ada kewajiban menyetujui; tak ada yang mengontrol pikiran. Maka filsafat terasa ringan karena tidak harus menyenangkan siapa pun.

 

Mahasiswa baru yang takut bertanya di kelas seringkali justru lebih berani bertanya di warung kopi. Kenapa? Karena di kelas ada nama, gelar, dan wibawa, sedangkan di warung kopi hanya ada manusia. Di ruang resmi, seseorang bisa salah bicara dan dihukum secara sosial, di warung kopi, orang bisa salah dan ditertawakan bersama.

Halaman Selanjutnya
img_title