Matinya Dialektika Mahasiswa di Tangan Senior dan Kekuasaan
Filsafat itu bukan berat hanya belum diminum dan seringkali mahasiswa tidak sempat meneguknya karena gelasnya sudah dipegang senior duluan. Padahal jika setiap mahasiswa dibiarkan meminum pikirannya sendiri, mungkin kampus akan menjadi tempat yang lebih jujur.
Dialektika yang mati bukan disebabkan kurangnya kecerdasan, tetapi karena rasa takut untuk meneguk kebenaran yang tidak sesuai selera kekuasaan. Padahal filsafat dari dulu lahir untuk menantang, bukan mengangguk.
Jika warung kopi bisa menjadi ruang yang lebih merdeka dibanding kampus, itu hanya menunjukkan satu hal: bahwa kebebasan berpikir tidak butuh auditorium. Ia hanya butuh keberanian, dan segelas kopi untuk menemani.
Orang sering mengira filsafat itu berat seperti kopi hitam pekat yang membuat dahi berkerut sebelum diseruput. Padahal yang berat bukan kopinya, tapi bayangan tentang kopi itu sendiri. Filsafat pun begitu: sebelum disentuh, ia tampak rumit; setelah diminum perlahan, barulah terasa bahwa ia hanyalah percakapan tentang hidup yang kita jalani setiap hari.
Di warung kopi, orang-orang menjadi filsuf tanpa sadar misalnya tukang parkir merenungi rezeki, kuli bangunan memikirkan keadilan upah, anak muda mempertanyakan masa depan, tanpa mereka sadari bahwa semua itu adalah filsafat dalam bentuknya yang paling jujur. Filsafat hidup justru lahir dari bibir orang biasa, bukan ruang kuliah yang kedap suara, artinya yang membuat filsafat tampak berat hanyalah cara sebagian orang mengemasnya.
Mereka mencampurnya dengan istilah asing, padahal dari dulu manusia sudah memikirkan hidup tanpa perlu kamus tebal. Filsafat adalah seni bertanya kenapa, bukan kemampuan menyebut nama Plato dan Nietzsche dengan lidah yang fasih.
Filsafat itu seperti kopi: kalau diminum pelan, ia menghangatkan. Kalau ditenggak tergesa, ia membuat kepala pusing, maka warung kopi mengajarkan hikmah sederhana: pahami dulu rasanya, baru simpulkan maknanya.
Pada akhirnya, yang membuat filsafat dekat dengan manusia bukan karena ia mudah atau sulit, tapi karena ia selalu relevan. Hidup ini memang penuh tanya; filsafat hanya mengajarkan cara menikmati tanya itu tanpa buru-buru mencari jawabannya.