Aksi Simbolik Hari Perempuan 2026 di Sumenep, Warga Diajak Lawan Kekerasan Seksual
Sumenep-, Peringatan International Women’s Day (Hari Perempuan Internasional) 2026 di Kabupaten Sumenep, Madura, diisi dengan aksi simbolik yang mengajak masyarakat lebih peduli terhadap isu perempuan, khususnya kekerasan seksual. Kegiatan ini digelar oleh Women Center Sumenep pada Sabtu, 14 Maret 2026, di Taman Bunga Sumenep.
Aksi yang dimulai pukul 13.30 WIB tersebut terbuka untuk umum. Panitia mengajak masyarakat, terutama perempuan dan generasi muda, untuk hadir mengenakan pakaian berwarna pink atau putih sebagai simbol solidaritas dan dukungan terhadap gerakan perlindungan perempuan.
Koordinator kegiatan dari Women Center Sumenep Aliya, menjelaskan bahwa aksi simbolik ini bukan sekadar perayaan Hari Perempuan Internasional, tetapi juga momentum untuk menyuarakan kesadaran bersama mengenai pentingnya menghentikan kekerasan seksual.
“Ini ruang bersama bagi perempuan dan masyarakat untuk menyuarakan pengalaman, harapan, dan komitmen dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi perempuan,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, panitia menyiapkan sejumlah agenda utama yang dikemas secara edukatif dan partisipatif. Salah satunya adalah Mimbar Refleksi, yakni panggung terbuka bagi peserta untuk menampilkan ekspresi seni, puisi, maupun refleksi mengenai perjuangan perempuan dan pengalaman menghadapi ketidakadilan gender.
Selain itu, panitia juga membuka program Women Charity, berupa penggalangan donasi yang akan disalurkan kepada korban kekerasan seksual. Program ini diharapkan menjadi bentuk nyata solidaritas masyarakat terhadap perempuan yang membutuhkan dukungan pemulihan.
Sebagai bentuk kampanye kesehatan dan edukasi menstruasi, Women Center Sumenep juga membagikan pembalut gratis khusus bagi perempuan. Program ini membawa pesan bahwa menstruasi bukan sesuatu yang perlu disembunyikan atau dianggap tabu.
Kampanye tersebut diangkat melalui slogan #MenstruasiBukanAib, yang bertujuan mendorong masyarakat lebih terbuka membicarakan kesehatan reproduksi perempuan.
Tidak hanya itu, peserta juga diajak menandatangani komitmen bersama melalui gerakan #BerhentiDiKamu, yaitu deklarasi simbolik untuk menghentikan segala bentuk kekerasan seksual mulai dari diri sendiri.
Panitia berharap kegiatan ini mampu menjadi ruang kolaborasi lintas komunitas, sekaligus memperkuat gerakan advokasi perempuan di Kabupaten Sumenep.
“Aksi ini terbuka untuk siapa saja yang ingin terlibat, baik sebagai peserta, relawan, maupun mitra kolaborasi,” kata panitia.