“Rudal Iran” Meledak di Pamekasan, Polisi Kemana?

Petasan ukuran jumbo menyerupai rudal balistik ala Pamekasan lolos dari pantauan Polisi
Sumber :
  • Riskiyadi

Pamekasan-, Perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah di Pamekasan, Madura, kembali diwarnai aksi berbahaya yang seolah jadi tradisi tak tersentuh hukum. Sebuah petasan jumbo bertuliskan “Iran” diledakkan warga Desa Badung, Kecamatan Proppo, Sabtu (20/3/2026) pagi sekitar pukul 08.30 WIB, di area pematang sawah.

Kotak Amal Digondol di Masjid, Kelalaian Pengawasan Jadi Sorotan

 

Bukan sekadar petasan biasa, benda itu dirakit menyerupai roket dengan hulu ledak besar. Ledakannya menggelegar hingga terdengar ke desa lain. Ironisnya, aksi terang-terangan ini justru luput dari pengawasan dan penindakan aparat penegak hukum.

Sun Halo Muncul di Pamekasan, Warga Kaitkan dengan Cuaca Ekstrem

 

Fenomena petasan ekstrem di wilayah tersebut bukan hal baru. Warga bahkan memberi nama unik pada rakitan mereka, mulai dari “Kapal Titanic”, “Tugu Monas”, hingga “Rudal Iran”. Kreativitas yang salah arah ini terus berulang setiap tahun, meski risiko korban terus nyata di depan mata.

Curas Siang Bolong di Sumenep, Warga Pamekasan Ditangkap Polisi

 

Yang lebih memprihatinkan, aksi penyulutan petasan itu disiarkan langsung melalui media sosial. Dalam siaran tersebut, muncul berbagai komentar bernada sindiran tajam kepada aparat. “Mana polisinya, sini enggak apa-apa. Suruh datang, tak kasi rokok,” tulis salah satu netizen. Sindiran itu mencerminkan persepsi publik yang mulai mempertanyakan kehadiran negara di tengah ancaman nyata.

 

Di sisi lain, ada juga warga yang mengingatkan bahaya dari aksi tersebut. “Awas bahaya,” tulis netizen lain. Namun peringatan itu seolah tenggelam oleh euforia dan pembiaran yang terus berulang.

 

A. Bahri, warga setempat, mengakui tradisi petasan sudah berlangsung lama. Ia menyebut tidak semua masyarakat setuju, namun praktik tersebut tetap berjalan. “Iya mau gimana mas, sudah tiap tahun. Padahal membahayakan,” ujarnya.

 

Meski demikian, Bahri menilai selama ini petasan lebih sering meledak di area terbuka dan tidak langsung mengenai warga. Namun fakta bahwa suara ledakan bisa terdengar hingga desa sebelah menunjukkan daya ledak yang tidak bisa dianggap sepele.

 

Situasi ini menjadi semakin ironis mengingat dalam sepekan terakhir, sedikitnya tujuh orang dilaporkan menjadi korban akibat ledakan petasan di wilayah Madura. Beberapa di antaranya mengalami luka bakar serius hingga cedera berat.

 

Publik pun mulai mempertanyakan keseriusan aparat dalam menindak peredaran dan penggunaan petasan berbahaya. Ketika peringatan sudah sering disampaikan dan korban terus berjatuhan, pembiaran justru terasa lebih nyaring daripada penegakan hukum.

 

Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka bukan tidak mungkin “tradisi” ini akan terus memakan korban berikutnya—sementara aparat hanya hadir setelah ledakan terjadi, bukan sebelum bahaya muncul.