Kebebasan Pers Dunia, LSM: Lapar Siang Malam
- AB Ibrahim
Surabaya-, Oleh Fauzi As
Mari kita jujur pada diri sendiri, jujur melihat fakta, meski fakta tidak selalu hadir dengan ramah. Beberapa data yang saya pegang adalah fakta yang susah untuk dikaburkan. Bukti transfer, rekaman komunikasi, dan banyak hal yang menggambarkan betapa profesi hanya dipakai oleh oknum sebagai pelindung kejahatan saja.
Mungkin cerita kades dan pengusaha itu terdengar lucu. Ada yang sembunyi di bawah meja, ada yang gonta-ganti nomor, ada yang tiap hari didatangi seperti tamu tak diundang yang lebih rajin dari penagih hutang.
Saya tidak setuju dengan paronomasia pada judul di atas, saya hanya bisa tertawa ketika seorang pengusaha rokok yang mengucapkan itu.
Tapi di balik tawa itu, ada satu kenyataan yang tidak bisa kita tutupi: kita sedang hidup di zaman di mana profesi mulia dipakai sebagai jas hujan. Dipakai saat butuh lalu dilepas saat kenyang.
Saya tidak sedang menyalahkan semua. Bagi saya "Itu Oknum". Tidak adil kalau kita pukul rata. Karena kita tahu, masih banyak LSM yang benar-benar bekerja: mendampingi masyarakat, melawan ketidakadilan, bahkan sering berdiri paling depan saat negara datang terlambat.
Tapi masalahnya, yang asli sering kalah suara dengan yang berisik.
Dan yang berisik ini… punya pola yang sama.
Datang membawa nama “lembaga”, pulang membawa “amplop”.
Mengatasnamakan kontrol sosial, tapi praktiknya kontrol perut sendiri. Bahasanya advokasi, tapi nadanya intimidasi.
Lebih menarik lagi, mereka tidak pernah kehabisan energi. Pagi LSM, siang wartawan, malam aktivis. Seakan-akan idealisme bisa di-shift seperti kerja pabrikan.
Lalu kita bertanya: kenapa ini bisa terjadi?
Jawabannya sederhana, tapi pahit-karena dapur mereka belum selesai dibangun, tapi sudah dipaksa berasap.
Ketika lapangan kerja sempit, ketika ekonomi daerah tidak memberi ruang hidup yang layak, maka profesi yang tidak butuh ijazah tinggi ini, tidak butuh modal besar, dan bisa “langsung menghasilkan” akan jadi magnet.
Dan dua profesi ini-LSM dan jurnalis-sering jadi pelabuhan singgah.
Bukan karena panggilan jiwa,
tapi banyak karena panggilan kebutuhan perut.