Kematian Prajurit TNI AL Asal Bangkalan Dipertanyakan Keluarga

Orang tua almarhum saat menunjukan foto diri Ghoriful Kasyfi
Sumber :
  • Abdur Rahem

Bangkalan-, Duka mendalam menyelimuti keluarga Ghofirul Kasyfi, seorang prajurit TNI Angkatan Laut berpangkat tamtama yang meninggal dunia dalam kondisi tidak wajar saat menjalankan dinas di Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) dr. Radjiman Wedyodiningrat di Jakarta. Kepergian prajurit muda berusia 22 tahun asal Bangkalan itu menyisakan tanda tanya besar bagi keluarga.

Misteri Motor Terlantar di Suramadu Terkuak, Pemiliknya Ditemukan Tewas

 

Isak tangis keluarga pecah saat prosesi pemakaman yang digelar pada Senin, 27 April 2026, di Tempat Pemakaman Umum wilayah Kemayoran, Bangkalan. Sejumlah prajurit TNI AL serta warga turut mengantar jenazah ke peristirahatan terakhir, menambah suasana haru dalam upacara tersebut.

Kematian Misterius Prajurit TNI AL di KRI, Versi Bunuh Diri Dibantah Keluarga

 

Pihak TNI AL sebelumnya menyampaikan bahwa korban meninggal dunia akibat bunuh diri. Namun, keluarga menilai penjelasan tersebut masih janggal. Ayah korban, Mahbub Madani, mengaku menemukan sejumlah kejanggalan pada kondisi tubuh anaknya yang diduga terdapat luka-luka yang mengarah pada indikasi kekerasan.

Kematian Prajurit TNI AL Sisakan Tanda Tanya dan Bekas Lebam

 

“Kami merasa ada yang tidak sesuai. Kami ingin kejelasan atas apa yang sebenarnya terjadi,” ujar Mahbub saat dimintai keterangan.

 

Di sisi lain, terdapat pula informasi berbeda yang diterima keluarga, yang menyebut tidak ditemukan tanda kekerasan pada tubuh korban. Perbedaan informasi ini semakin menambah kebingungan dan kecurigaan pihak keluarga terhadap penyebab pasti kematian Ghofirul.

 

Mahbub juga mengungkapkan bahwa beberapa minggu sebelum kejadian, anaknya sempat mengeluh mengenai perlakuan keras yang diduga dilakukan oleh seniornya di lingkungan dinas. Meski demikian, saat itu pihak keluarga hanya bisa memberikan dukungan moral agar korban tetap kuat menjalani tugasnya.

 

Untuk mengungkap kebenaran, keluarga berencana mengajukan surat keberatan kepada pihak TNI AL terkait penyebab kematian tersebut. Mereka juga meminta agar dilakukan autopsi ulang secara menyeluruh dan transparan guna memastikan penyebab pasti kematian korban.

 

“Kami ingin proses yang terbuka dan jujur. Jika memang tidak ada apa-apa, kami akan menerima. Tapi jika ada unsur kekerasan, kami akan menuntut keadilan,” tegas Mahbub.

 

Keluarga berharap penyelidikan dilakukan secara profesional dan tidak ada yang ditutup-tutupi. Kasus ini dinilai penting tidak hanya bagi keluarga korban, tetapi juga untuk menjaga kepercayaan publik terhadap institusi serta menjamin keselamatan prajurit dalam menjalankan tugas.

 

Hingga kini, belum ada keterangan lanjutan dari pihak TNI AL terkait kemungkinan autopsi ulang maupun hasil investigasi internal. Sementara itu, keluarga terus menunggu kejelasan dengan harapan kasus ini dapat diungkap secara terang benderang.

 

Jika nantinya terbukti bahwa kematian Ghofirul disebabkan oleh faktor non-kekerasan, keluarga menyatakan siap mengikhlaskan. Namun sebaliknya, apabila ditemukan adanya unsur kekerasan, mereka menegaskan akan menempuh jalur hukum demi mendapatkan keadilan yang seadil-adilnya.(rhm)