Topak Lodeh Diserbu, Alun-Alun Bangkalan Dipadati Ribuan Warga
- Abdur Rahem
Bangkalan-, Ribuan warga memadati kawasan Alun-Alun Bangkalan, Madura, Jawa Timur, pada momen Lebaran Ketupat yang jatuh sepekan setelah Idul Fitri. Tradisi tahunan ini berubah menjadi pasar tumpah dadakan yang dipenuhi pemburu kuliner khas, terutama Topak Lodeh yang menjadi ikon perayaan.
Sejak usai salat Subuh, arus pengunjung terus berdatangan. Tak hanya warga lokal, masyarakat dari luar daerah seperti Surabaya hingga Jakarta turut meramaikan suasana. Mereka rela menempuh perjalanan jauh, termasuk menyeberangi Jembatan Suramadu, demi mencicipi sajian khas yang hanya muncul setahun sekali.
Puluhan lapak pedagang berjajar rapi di sekitar alun-alun, menawarkan beragam makanan tradisional. Mulai dari ketupat, aneka lauk pauk, hingga jajanan khas Madura. Suasana semakin semarak dengan warga yang memilih duduk lesehan sambil menikmati hidangan yang baru dibeli.
Dari sekian banyak kuliner, dua jenis makanan menjadi primadona, yakni lepet dan Topak Ladeh. Lepet, jajanan berbahan dasar beras ketan yang dibungkus janur kuning, banyak diburu karena cita rasanya yang gurih dan autentik.
Namun, bintang utama tetap Topak Ladeh. Kuliner khas Bangkalan ini berupa ketupat yang disajikan dengan kuah kental berbumbu rempah khas. Isinya beragam, mulai dari telur, daging sapi, hingga jeroan seperti usus dan ati ampela. Perpaduan rasa gurih dan kaya rempah menjadikan hidangan ini favorit pengunjung.
“Setiap tahun selalu ke sini, rasanya beda kalau Lebaran Ketupat tanpa Topak Ladeh,” ujar Rinda, warga Bangkalan.
Sementara itu, Iis Andriyani, warga Jakarta yang tengah mudik, mengaku penasaran dengan kuliner khas tersebut. “Saya sengaja datang ke sini karena ingin merasakan langsung suasananya. Ternyata memang ramai dan makanannya enak,” katanya.
Selain berburu kuliner, momen ini juga dimanfaatkan sebagai ajang silaturahmi. Banyak warga yang baru sempat bertemu keluarga dan kerabat setelah Hari Raya Idul Fitri.
Tradisi pasar tumpah Lebaran Ketupat ini menjadi bukti kuatnya budaya lokal yang tetap lestari di tengah modernisasi. Keramaian yang tercipta tidak hanya menggerakkan ekonomi warga, tetapi juga mempererat hubungan sosial antar masyarakat.
Perayaan ini pun menjadi daya tarik tersendiri bagi Bangkalan, sekaligus mempertegas posisi kuliner tradisional sebagai identitas budaya yang terus hidup dari generasi ke generasi.(RHM)