Pengawasan MBG di Madura Dinilai Lemah, Makanan Basi, Berulat Hingga Kasus Keracunan
Pamekasan-, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi simbol kepedulian pemerintah terhadap kesehatan dan gizi siswa, kini justru kerap menjadi sorotan miring di sejumlah kabupaten di Pulau Madura.
Mulai dari makanan basi, sayur berulat, hingga kasus keracunan siswa, berbagai temuan memalukan itu menjadi potret buram implementasi program MBG yang dijalankan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di empat kabupaten, yaitu Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep.
Ironisnya, persoalan ini bukan kali pertama muncul. Namun, hingga kini belum terlihat langkah tegas dari pemerintah daerah untuk membenahi sistem pengawasan dan distribusinya.
Aktivis muda Madura, Achmad Zahir, menilai bahwa lemahnya pengawasan menjadi sumber utama buruknya kualitas MBG di lapangan.
“Sudah banyak temuan negatif tentang MBG di Madura. Harusnya ada perlakuan khusus, terutama dari sisi pengawasan. Dan tentu bukan pengawasan internal yang kental dengan nuansa kompromi,” tegas Zahir, Kamis (6/11/2025).
Menurutnya, pemerintah seharusnya membentuk lembaga pengawasan independen yang melibatkan unsur eksternal agar pelaksanaan MBG benar-benar sesuai standar gizi dan keamanan pangan.
“Pelibatan unsur eksternal menjadi penting dalam pengawasan distribusi MBG. Jangan sampai sudah ada korban baru pemerintah sibuk sana-sini. Lebih baik mengantisipasi daripada mengevakuasi,” sindirnya.
Zahir juga menyoroti adanya potensi monopoli pasar bahan baku MBG dalam sistem kerja SPPG. Ia menilai, ketidaktransparanan itu bisa menjadi akar dari buruknya kualitas makanan yang disajikan.
“Dalam mekanisme SPPG itu rawan monopoli bahan baku. Kalau pasar tidak kompetitif, kualitas bahan bisa menurun. Ujung-ujungnya yang dirugikan anak-anak sekolah,” tambahnya.
Ia pun mendesak agar pemerintah provinsi hingga pusat turun tangan, bukan sekadar menunggu laporan, tetapi benar-benar melakukan audit lapangan dan evaluasi menyeluruh.
Program MBG sejatinya digagas untuk meningkatkan asupan gizi pelajar agar tumbuh sehat dan cerdas. Namun, jika pengawasan dibiarkan lemah dan terindikasi kompromi, program mulia ini bisa berubah menjadi malapetaka bergizi bagi masa depan generasi muda.