Mahasiswa Bentrok di Mapolres Bangkalan, Tuntut Polisi Bangun dari TIDUR PANJANG

Baku pukul antara Mahasiswa dan Polisi Bangkalan
Sumber :

Bangkalan-, Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Forum Mahasiswa Geger mendatangi Mapolres Bangkalan, Selasa siang. Mereka bukan datang untuk wisata institusi, melainkan untuk mengingatkan polisi bahwa Bangkalan sedang tidak baik-baik saja.

Tabrak Pohon, Bus Mini Muat Durian Terguling di Bangkalan

 

Aksi yang awalnya damai itu berubah ricuh tepat di pintu masuk Mapolres. Mahasiswa dan aparat kepolisian terlibat aksi saling dorong hingga adu pukul. Ironisnya, dua mahasiswa justru harus pulang dengan luka memar di bagian wajah dan leher—oleh sebagian massa disebut sebagai “oleh-oleh dari negara”.

Ternyata Ini Penyebab Warga Pamekasan Berburu Emas Diselokan

 

Kericuhan pecah ketika massa mencoba masuk ke area Mapolres. Di saat masyarakat berharap polisi menjaga keamanan, pemandangan yang tersaji justru seperti adegan latihan crowd control yang lupa kalau yang dihadapi adalah warga sendiri.

Nenek di Bangkalan Dikeroyok, Polisi Tetapkan Tiga Orang Tersangka

 

Dalam orasinya, mahasiswa menuntut Polres Bangkalan agar berhenti pura-pura buta terhadap tambang-tambang ilegal yang hingga kini masih beroperasi bebas. Tambang tanpa izin itu bukan hanya merusak lingkungan, tetapi juga seolah menambang kewibawaan hukum di Bangkalan.

 

“Kalau rakyat kecil salah parkir saja bisa ditilang, kenapa tambang ilegal bisa parkir lama tanpa disentuh?” sindir salah satu orator.

 

Tak hanya soal tambang, mahasiswa juga mendesak penindakan serius terhadap begal dan pelaku curanmor yang kian merajalela. Jalanan Bangkalan, terutama malam hari, disebut lebih mirip arena berburu daripada ruang publik yang aman.

 

Aksi baru mereda setelah Kapolres Bangkalan yang baru dua hari menjabat, AKBP Wibowo, turun menemui massa. Ia berjanji akan menampung dan menindaklanjuti semua aspirasi mahasiswa demi terciptanya kamtibmas.

 

Koordinator lapangan, Rohmatulloh Sidik, menyatakan bahwa mahasiswa masih memberi waktu. Namun jika janji itu hanya berakhir sebagai arsip pidato, mereka siap turun kembali dengan massa yang lebih besar.

 

“Kalau hukum terus tumpul ke atas dan tajam ke bawah, jangan salahkan mahasiswa kalau kami terus datang menggedor,” tegasnya.

 

Di Bangkalan, hari itu, yang bentrok bukan hanya mahasiswa dan polisi—tetapi juga harapan dengan kenyataan.(RHM)