MBG Kelapa Muda Pamekasan, BGN Sebut Langgar Aturan, SPPG Berdalih Uji Coba
Pamekasan-, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Pamekasan menuai sorotan. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bumdes Sejahtera Desa Rek Kerrek, Kecamatan Palengaan, diduga menyalurkan menu yang justru jauh dari standar siap santap, yakni kelapa muda utuh tanpa dikupas dan telur ayam mentah kepada ribuan siswa.
Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Pamekasan, Hariyanto Rahmansyah Tri Arif, menegaskan bahwa penyaluran menu MBG memiliki aturan jelas, yakni makanan harus dalam kondisi siap dikonsumsi oleh siswa.
“Kalau kelapa muda utuh atau tidak dikupas, itu bukan siap santap. Itu melanggar aturan,” ujarnya.
Ia menambahkan, menu MBG wajib mengikuti petunjuk teknis BGN serta memperhatikan angka kecukupan gizi yang telah ditetapkan. Tujuannya jelas, yakni memastikan anak-anak menerima makanan bergizi, higienis, dan benar-benar bisa langsung dimakan, bukan bahan yang masih perlu diolah.
Namun pihak SPPG Bumdes Sejahtera memiliki alasan berbeda. Kepala SPPG, Hairul Hafid, menyebut penyaluran kelapa utuh, telur mentah, roti, dan susu tersebut merupakan bagian dari uji coba menu kering menjelang Ramadhan.
“Hanya percobaan menu keringan karena menjelang Ramadhan,” katanya.
Ia juga berdalih bahwa menu tersebut telah dikonsultasikan kepada pakar sebelum disalurkan kepada sekitar 3.000 siswa di wilayah Kecamatan Palengaan. Bahkan, menurutnya, penyaluran dilakukan berdasarkan kebutuhan di lapangan, bukan semata mengikuti juknis BGN.
Pernyataan itu justru memunculkan pertanyaan baru. Sebab sejak awal peluncuran program MBG, Presiden RI telah menekankan agar dapur MBG mengutamakan protein hewani, makanan higienis, bergizi seimbang, dan yang paling mendasar: siap saji.
Fakta di lapangan menunjukkan hal sebaliknya. Siswa menerima kelapa utuh yang belum dikupas dan telur mentah—menu yang lebih cocok disebut bahan dapur daripada makanan siap makan.
Program yang seharusnya memastikan anak-anak makan bergizi justru berisiko berubah menjadi pelajaran praktik memasak tanpa kompor. Jika standar “siap santap” bisa ditafsirkan sebebas itu, yang patut dikhawatirkan bukan hanya soal menu, tetapi juga soal keseriusan menjalankan program untuk masa depan anak-anak.