MBG Rasa Pasar: Siswa Pamekasan Dapat Kelapa Utuh dan Telur Mentah
Pamekasan-, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi solusi pemenuhan gizi siswa, justru memantik sorotan tajam publik. Sebuah video berdurasi 53 detik yang memperlihatkan mobil Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dari dapur Bumdes Sejahtera Desa Rek Kerrek, Kecamatan Palengaan, viral di media sosial, Sabtu (14/02/2026).
Dalam video tersebut, bukan ompreng berisi makanan siap santap yang dibagikan kepada siswa. Yang diterima para pelajar justru satu buah kelapa muda utuh tanpa dikupas, dua butir telur mentah, dua potong roti, dan susu.
Alih-alih makan bergizi siap konsumsi, siswa seperti diberi “paket belanja” yang masih butuh dapur dan kompor.
Ironisnya, pembagian bahan mentah itu disebut sebagai jatah dua hari yang digabung menjadi satu kali distribusi pada Kamis (12/02), lantaran Jumat tidak ada penyaluran MBG.
Kepala SPPG Bumdes Sejahtera Desa Rek Kerrek, Hairul, membenarkan penyaluran tersebut.
“Iya kelapa muda, dua telur dan dua roti serta ada susunya juga,” ujarnya.
Ia menjelaskan, total distribusi MBG menjangkau 3.000 siswa di wilayah Kecamatan Palengaan. Namun, sebanyak 2.030 siswa menerima paket kelapa muda dan telur mentah, sementara 970 siswa lainnya mendapat jeruk, telur mentah, roti produk UMKM, dan susu.
Hairul menyebut pembagian itu sebagai pengganti dua hari penyaluran yang dijadikan satu.
Namun publik bertanya, apakah konsep “Makan Bergizi Gratis” kini berubah menjadi “Bahan Mentah Gratis”?
Program yang digadang-gadang untuk memastikan anak-anak sekolah mendapat asupan siap konsumsi justru meninggalkan tanda tanya besar soal standar penyajian, keamanan pangan, dan pengawasan teknis di lapangan.
Jika telur masih mentah dan kelapa masih utuh, siapa yang memastikan anak-anak benar-benar bisa mengonsumsinya dengan aman?
Programnya mungkin gratis. Tapi jika pengawasan longgar, yang mahal justru kredibilitasnya.