MBG Ramadan di Bangkalan Disorot, Kiai Imron Minta Bupati Turun Tangan

Penampakan maknan bergizi gratis di TK Kumala Bhayangkara Bangkalan
Sumber :
  • Abdur Rahem

Sumenep-, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama bulan suci Ramadan di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, menuai sorotan tajam. Alih-alih mendapat apresiasi penuh, menu MBG yang kini berbentuk makanan kering justru dikeluhkan banyak wali siswa. Mereka menilai sajian yang diterima anak-anak terkesan asal-asalan dan tidak mencerminkan semangat program bergizi yang digaungkan pemerintah.

Gerebek Rumah di Tragah Bangkalan, Polisi Tangkap 2 Pengedar Sabu Residivis

 

Keluhan tersebut sampai ke telinga Pengasuh Ponpes Mambaus Salam Bangkalan, KH Imron Fattah. Ia mengaku menerima banyak aduan, baik melalui pesan WhatsApp maupun laporan langsung dari para wali murid. Intinya sama: menu MBG selama Ramadan dianggap tidak layak dan diduga tidak sesuai dengan anggaran yang seharusnya.

Ngabuburit Favorit di Bangkalan, Pesona Long Gledek Ramai Pengunjung Saat Ramadan

 

“Banyak yang mengeluh. Ada buah yang sudah busuk tetap dibagikan kepada siswa, roti yang kualitasnya rendah, kurma dan kacang yang tidak segar, bahkan hanya tempe rebus dan ubi-ubian,” ujar KH Imron, Senin (2/3/2026).

Pasar Takjil Bangkalan Banjir, Pedagang Terpaksa Bawa Pulang Dagangan

 

Menurutnya, kondisi ini tidak bisa dianggap sepele. Program MBG adalah program prioritas nasional yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi dan kesehatan anak. Namun jika pelaksanaannya di lapangan amburadul, maka tujuan mulia itu bisa berubah menjadi polemik.

 

KH Imron pun mendesak Bupati Bangkalan Lukman Hakim dan Satgas MBG yang dipimpin Bambang Mustika untuk tidak tinggal diam. Ia meminta agar dilakukan inspeksi mendadak (sidak) langsung ke lapangan guna memastikan kualitas makanan yang diterima para siswa.

 

“Saya minta bupati dan satgas turun langsung ke bawah. Jangan hanya menerima laporan di atas meja. Sejak Ramadan pertama, wali siswa sudah berteriak soal menu MBG kering yang diduga tidak layak dan tidak sesuai harga,” tegasnya.

 

Ia juga menyinggung belum adanya tindakan tegas terhadap pengelola dapur MBG di Bangkalan, padahal keluhan terus bermunculan. Sebagai kepanjangan tangan pemerintah pusat, pengawas di daerah seharusnya memastikan setiap menu yang dibagikan benar-benar memenuhi standar gizi dan kualitas.

 

Lebih lanjut, KH Imron mengingatkan para pengelola dapur SPPG agar tidak bermain-main dalam menjalankan tanggung jawabnya. Program sebesar MBG bukan sekadar rutinitas distribusi makanan, melainkan investasi masa depan generasi muda.

 

“Semua lini harus diawasi dengan ketat, apalagi selama Ramadan. Mulai dari tata kelola, penyajian, kualitas, hingga distribusi harus dikontrol bersama. Jangan sampai program prioritas Presiden Prabowo Subianto malah menjadi petaka,” ujarnya.

 

Meski keras mengkritik pelaksanaan di lapangan, KH Imron tetap mengapresiasi kebijakan pemerintah yang berupaya menjaga asupan gizi anak-anak selama Ramadan. Ia menilai, secara konsep, MBG adalah program mulia yang patut didukung.

 

“Kebijakan pemerintah untuk tetap memberikan menu MBG selama Ramadan patut diapresiasi. Ini demi memenuhi kebutuhan gizi anak sebagai penerima manfaat,” katanya.

 

Namun ia menegaskan, apresiasi tidak boleh menutup mata dari realita di lapangan. Jika benar ada praktik pengurangan kualitas demi meraup keuntungan, maka hal itu harus diusut tuntas. Transparansi anggaran dan pengawasan berkelanjutan menjadi kunci agar MBG di Bangkalan tidak sekadar slogan, tetapi benar-benar memberi manfaat nyata bagi anak-anak.(RHM)