Di Madura Makan Bergizi, Risiko Gratis?

Siswa di Bangkalan Madura dilarikan ke Puskesmas usai konsumsi MBG
Sumber :
  • Abdur Rahem

Bangkalan-, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi solusi pemenuhan gizi siswa, justru kembali menyisakan ironi di Bangkalan, Jawa Timur. Dua siswa dan seorang guru SMP Negeri 1 Blega mengalami gejala keracunan usai menyantap menu yang diduga sudah tidak layak konsumsi.

Misteri Motor Terlantar di Suramadu Terkuak, Pemiliknya Ditemukan Tewas

 

Peristiwa ini bermula saat seorang guru yang juga bertugas sebagai pengawas MBG mencicipi makanan sebelum dibagikan kepada siswa. Langkah itu sejatinya prosedur standar untuk memastikan kualitas. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Sekitar 30 menit setelah mencicipi tumis buncis dan jagung, sang guru mengalami pusing dan mual hingga harus dilarikan ke Puskesmas Blega.

Kematian Misterius Prajurit TNI AL di KRI, Versi Bunuh Diri Dibantah Keluarga

 

Kecurigaan sebenarnya sudah muncul sejak awal. Menu sayuran tampak mengalami perubahan warna, tanda klasik yang seharusnya cukup untuk menghentikan distribusi. Sayangnya, indikasi tersebut tidak langsung ditindak tegas. Alhasil, sebagian makanan tetap terlanjur dikonsumsi siswa.

Kematian Prajurit TNI AL Sisakan Tanda Tanya dan Bekas Lebam

 

Dua siswa kelas tiga yang sempat menyantap makanan tersebut ikut mengalami gejala serupa, mulai dari pusing hingga muntah. Mereka pun harus mendapatkan penanganan medis, meski akhirnya kondisi ketiganya berangsur membaik dan diperbolehkan pulang.

 

Kepala Satgas MBG Bangkalan, Bambang Mustika, menyebut pihaknya masih melakukan penyelidikan bersama Dinas Kesehatan untuk memastikan penyebab pasti kejadian ini. Pernyataan yang terdengar normatif—dan sayangnya sering kali muncul setiap kali insiden serupa terjadi.

 

Yang menarik, atau mungkin memprihatinkan, catatan menunjukkan bahwa penyedia yang sama sebelumnya juga pernah mendistribusikan makanan basi beberapa bulan lalu. Artinya, ini bukan kejadian pertama. Evaluasi semestinya sudah dilakukan secara menyeluruh. Namun fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya: masalah lama datang kembali dengan cara yang sama.

 

Program MBG dirancang dengan tujuan mulia, meningkatkan gizi generasi muda. Tetapi jika pengawasan longgar dan evaluasi hanya sebatas formalitas, maka yang gratis bukan hanya makanannya—melainkan juga risikonya.

 

Kasus ini menjadi evaluasi bersama dan pengingat bahwa kualitas tidak boleh dikompromikan, terlebih ketika menyangkut kesehatan anak-anak. Jika standar keamanan pangan saja tak mampu dijaga, publik berhak bertanya: apakah yang dibagikan benar-benar “bergizi”, atau sekadar “gratis”?(RHM)