Ke Madura, Ini Yang Dilakukan Menteri Kebuayaan Fadli Zon

Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon
Sumber :

Bangkalan-, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon menghadiri Kongres Budaya Madura sekaligus meresmikan Museum Budaya Madura di Universitas Trunojoyo Madura (UTM).

Tabrak Pohon, Bus Mini Muat Durian Terguling di Bangkalan

Kongres Budaya Madurabertajuk “Glokalisasi Madura: Mengakar di Madura, Berdampak untuk Dunia” ini yang berlangsung di Gedung Pertemuan RP Moch. Noer itu dihadiri Bupati Bangkalan Lukman Hakim, budayawan nasional KH D. Zawawi Imron, anggota DPR RI Hasani Zubair, serta sejumlah budayawan, seniman, dan sejarawan Madura.

Fadli Zon mengapresiasi inisiatif pihak kampus UTM yang telah mendirikan Museum Budaya Madura. Dia memberikan pujian kepada perguruan tinggi negeri di Pulau Madura tersebut.

Ternyata Ini Penyebab Warga Pamekasan Berburu Emas Diselokan

 

Menurutnya, kehadiran museum itu sangat penting dan bernilai strategis dalam mendukung pelestarian budaya Madura yang terkenal kental dalam melestarikan budaya di mancah nasional. 

Nenek di Bangkalan Dikeroyok, Polisi Tetapkan Tiga Orang Tersangka

 

”Ini merupakan inisiatif yang sangat penting dan berharga bagi warga madura, terutama bagi kalangan mahasiswa. Kami berharap akan tumbuh museum-museum lain, baik di perguruan tinggi maupun lembaga lainnya,” ujarnya.

 

 

Fadli Zon juga menegaskan, hal terpenting dalam pendirian museum adalah keberanian untuk memulai. Persoalan koleksi, yang bersejarah,dapat dilengkapi seiring berjalannya waktu. Bahkan, Fadli berharap Museum Budaya Madura UTM ke depan dapat memiliki gedung tersendiri.

 

”Semoga ke depan koleksi di museum ini semakin bertambah,” paparnya.

 

Selain itu, Museum Budaya Madura UTM diharapkan menjadi museum yang hidup. Tidak hanya sebagai tempat penyimpanan artefak  dan benda bersejarah, tetapi juga menjadi ruang diskusi dan pembelajaran, khususnya bagi mahasiswa, serta masyarakat yang akan menambah pengetahuan. 

 

”Museum ini tidak hanya menjadi tempat artefak dan peninggalan sejarah, tetapi juga harus menjadi ruang belajar dan berdiskusi,” imbuhnya.

 

Sementara itu, Rektor universitas turnojoyo madura (UTM) Prof Safi’ menyampaikan, pendirian Museum Budaya Madura merupakan bagian dari komitmen kampus dalam melestarikan budaya Madura. Menurutnya, lembaga pendidikan dan pemerintah daerah memiliki tanggung jawab bersama untuk menjaga dan mengembangkan budaya lokal.

 

”Meski masih memiliki keterbatasan, baik dari sisi ruangan maupun jumlah koleksi,” tuturnya.

 

Prof Safi’ menambahkan, ke depan pihaknya akan terus menambah koleksi Museum Budaya Madura UTM, agar para mahasiswa mengetahui lebih mendalam. 

 

Sementara itu, Peresmian museum tersebut mendapat dukungan dari berbagai pihak.

Bahkan, sejumlah pihak menyatakan keinginan untuk menghibahkan benda-benda bersejarah secara cuma-cuma untuk dijadikan koleksi museum.”Ada yang berupa lukisan, ada pula barang-barang lain yang ingin dihibahkan kepada kami,” paparnya.

 

Terkait rencana pembukaan Program Studi Bahasa Madura, Prof. Safi mengakui aspirasi tersebut cukup besar, baik dari kalangan pendidik, tokoh masyarakat, budayawan, hingga Menteri Kebudayaan. Namun, menurutnya, pendirian Prodi tersebut memerlukan dukungan kebijakan nasional.

 

“Perlu ada kebijakan dari kementerian terkait agar Bahasa Madura masuk dalam nomenklatur program studi. Juga perlu dukungan kebijakan agar lulusan Pendidikan Bahasa Madura memiliki kejelasan lapangan kerja,” jelasnya.

Ia menambahkan, tanpa dukungan kebijakan tersebut, dikhawatirkan Prodi Bahasa Madura akan sepi peminat meskipun secara kultural sangat penting.

 

Dalam konteks pengusulan Trunojoyo sebagai Pahlawan Nasional, Prof. Safi juga menyebut UTM siap berperan dari sisi kajian akademik dan penguatan aspek legal, sementara kewenangan administratif tetap berada di pemerintah daerah.(RHM)