Tokoh Blater Madura Murka: Usir Nenek Elina, Ormas MADAS Lebih Baik Dibubarkan
Surabaya-, Aksi pengusiran paksa dan pembongkaran rumah seorang nenek bernama Elina di Surabaya terus menuai kecaman. Kali ini, kemarahan datang dari salah satu tokoh blater Madura asal Kabupaten Bangkalan, Soleh Abdi Jaya. Dengan nada keras, ia mendesak para pelaku yang mengatasnamakan Ormas Madas agar segera ditangkap atau menyerahkan diri kepada aparat penegak hukum.
Peristiwa yang terekam video dan viral di media sosial itu bukan sekadar persoalan hukum, tetapi telah berubah menjadi polemik nasional, khususnya di Pulau Madura. Pasalnya, tindakan premanisme tersebut dilakukan dengan membawa-bawa nama suku Madura, seolah-olah kekerasan adalah identitas budaya.
“Perilaku seperti itu sama sekali tidak mencerminkan orang Madura,” tegas Soleh Abdi Jaya.
Menurut Soleh, orang Madura sejak kecil diajarkan budi pekerti, adab sopan santun, serta penghormatan tinggi kepada orang tua dan lanjut usia. Namun yang terjadi pada Nenek Elina justru sebaliknya: intimidasi, pengusiran, hingga pembongkaran rumah dilakukan tanpa rasa kemanusiaan.
“Kalau masih punya nurani, mana mungkin seorang nenek diperlakukan seperti itu,” sindirnya.
Soleh juga menyoroti keras penggunaan nama suku Madura dalam organisasi tersebut. Ia menilai, pencantuman identitas Madura dalam ormas yang berperilaku preman justru menjadi beban sosial bagi jutaan warga Madura lainnya yang hidup damai dan bekerja jujur di berbagai daerah di Indonesia.
“Yang rusak bukan cuma rumah nenek Elina, tapi juga nama baik Madura,” ujarnya.
Lebih lanjut, Soleh meminta agar Ormas Madas melakukan evaluasi internal secara menyeluruh. Namun jika organisasi tersebut tidak mampu membina anggotanya dan justru terus memproduksi aksi intimidasi, ia secara terbuka menyerukan agar ormas tersebut membubarkan diri.
“Kalau hanya jadi sarang preman dan merusak citra Madura, lebih baik bubar saja,” katanya lantang.
Tak hanya itu, Soleh juga mendesak para pelaku intimidasi terhadap Nenek Elina untuk segera menyerahkan diri kepada polisi dan mempertanggungjawabkan perbuatannya secara hukum.
Ia menegaskan, tindakan segelintir oknum yang mengatasnamakan suku tidak boleh dibiarkan terus mencoreng martabat orang Madura secara keseluruhan.