SPPG Matlabul Ulum Jambu Sumenep Diduga Tak Sesuai SOP?

Ilustrasi
Sumber :

Sumenep-, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang sebagai ikhtiar negara mencetak generasi sehat dan kuat, tampaknya belum sepenuhnya sejalan dengan realitas di lapangan. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Matlabul Ulum yang berlokasi di Desa Jambu, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, diduga beroperasi jauh dari standar operasional prosedur (SOP) yang semestinya.

Tabrak Pohon, Bus Mini Muat Durian Terguling di Bangkalan

 

Alih-alih menjadi dapur harapan bagi tumbuh kembang anak bangsa, SPPG tersebut justru disorot lantaran seringnya pergantian mitra pelaksana, serta ketiadaan tenaga ahli gizi—dua hal krusial dalam program yang membawa embel-embel “bergizi”.

Ternyata Ini Penyebab Warga Pamekasan Berburu Emas Diselokan

 

Ironisnya, kondisi itu disebut telah berlangsung cukup lama. Akibatnya, kualitas makanan yang disajikan pun dipertanyakan.

Nenek di Bangkalan Dikeroyok, Polisi Tetapkan Tiga Orang Tersangka

 

“Sudah beberapa kali ganti mitra, dan setiap porsinya selama ini asal-asalan, karena tidak ada ahli gizinya. Semoga segera diperbaiki sistemnya, karena yang dirugikan adalah para siswa dan masyarakat sekitar,” ujar Hendra, aktivis Pemuda Lenteng, Sumenep.

 

Pernyataan tersebut seakan menjadi alarm keras bahwa program nasional berlabel mulia ini berpotensi tergelincir menjadi sekadar rutinitas administratif tanpa esensi gizi yang nyata.

 

Hendra menegaskan, MBG bukan proyek coba-coba, apalagi ruang eksperimen. Menurutnya, anak-anak sekolah sebagai penerima manfaat utama membutuhkan penanganan profesional, bukan pendekatan asal jalan.

 

“Jangan main-main. Ini berdampak langsung terhadap kondisi kesehatan anak-anak bangsa. Kalau tidak mampu profesional, maka mundur. Masih banyak mitra profesional lain yang bisa menjalankan,” sindirnya dengan nada tegas.

 

Sindiran tersebut bukan tanpa alasan. Program MBG menyangkut masa depan generasi muda, sehingga ketiadaan ahli gizi dan inkonsistensi mitra dinilai sebagai bentuk kelalaian yang tak bisa ditoleransi.

 

Sementara itu, terkait dugaan tersebut, madura.viva.co.id telah berupaya melakukan konfirmasi kepada Gufron, yang disebut sebagai mitra baru SPPG Matlabul Ulum sejak 13 Januari 2026. Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada jawaban atau klarifikasi yang diberikan.

 

Publik pun kini menunggu, apakah SPPG Matlabul Ulum akan berbenah dan kembali ke rel SOP, atau justru membiarkan program bergizi ini kehilangan makna di balik panci dan prosedur yang setengah matang.