PBNU, Pater Barkowitz, dan Toleransi yang Hilang
Oleh : Sakib Mahmud Penulis Buku Humanisme Samawi
Kadang saya merasa, di negeri ini, label itu punya kekuatan yang aneh. Orang bisa diukur bukan dari apa yang ia kerjakan, tapi dari apa yang menempel di belakang namanya. Begitu sebuah kata terucap—Yahudi, Zionis, Barat—muncul gelombang kemarahan yang tak sempat dipikirkan. Seolah akal sehat ditinggal di meja, padahal kopinya masih hangat. Kasus Pater Barkowitz dan ribut-ribut soal Ketum PBNU adalah contoh terbaru bagaimana kita sering lebih takut pada bayangan ketimbang kenyataan.
Gus Yahya menghadirkan seorang akademisi, tapi yang dilihat sebagian orang bukan pikirannya, bukan ilmunya, bukan nilai dari dialog itu—melainkan label yang mereka pasang sendiri. Ironisnya, dalam sejarah Islam justru belajar dari siapa pun itu hal biasa. Nabi pernah menyuruh Zayd bin Thabit belajar bahasa Ibrani dari orang Yahudi supaya umatnya tidak gampang dibohongi. Abdullah bin Salam, seorang rabbi, malah jadi rujukan sahabat untuk kisah-kisah Bani Israil. Umar berdiskusi dengan Ka‘b al-Ahbar, dan Ibn Abbas tidak alergi pada pengetahuan Ahlul Kitab selama tidak bertentangan dengan akidah.
Jadi kalau hari ini ada orang panik hanya karena seorang akademisi berlabel tertentu diundang ke forum PBNU, pertanyaannya sederhana: siapa sebenarnya yang rapuh? Ilmunya, atau mental kita?
Gus Yahya bilang bahwa ia menilai Barkowitz dari rekam jejak intelektualnya, bukan dari agama atau afiliasi politiknya. Itu wajar, karena ilmu memang tidak memilih alamat. Ia tidak punya agama, tidak punya paspor, tidak ikut RT/RW. Ilmu hanya tunduk pada akal yang jernih dan kerja keras. Kalau kita menolak sesuatu hanya karena rasa takut pada label, berarti yang kita jaga bukan iman, tapi kecemasan kita sendiri.
Mereka yang berteriak soal pemakzulan kadang terdengar seperti orang yang takut angin akan merobohkan rumahnya. Iman yang kokoh tidak runtuh hanya karena mendengar pendapat orang yang berbeda. Bahkan ulama-ulama besar yang menjadi referensi NU menyerap ilmu dari tradisi yang jauh dari Islam—dari logika Yunani sampai astronomi dan kedokteran klasik. Tidak ada yang baper, tidak ada yang merasa akidahnya terancam.
Masalahnya bukan Barkowitz. Masalahnya adalah kita, yang semakin mudah curiga, semakin lekas marah, semakin gemar menempelkan label pada apa pun yang kita tidak mengerti. NU sejak dulu hidup dengan jendela terbuka. Pesantren tumbuh dari perpaduan tradisi fikih, kalam, filsafat, logika, hingga ilmu-ilmu yang lahir dari tangan para ilmuwan non-Muslim. Tapi sekarang, tiba-tiba ada yang ingin menutup jendela itu rapat-rapat, seolah udara luar pasti beracun.
Gus Yahya berjalan di jalur yang tidak populer—jalur yang percaya bahwa Islam tidak akan hancur hanya karena berdialog dengan pikiran lain. Justru ia akan hancur kalau ditutup rapat-rapat seperti ruangan yang tidak pernah dibersihkan. Orang bisa pingsan di dalamnya. Hadirnya Barkowitz, setuju atau tidak, adalah cermin dari keberanian membuka jendela itu.
Pada akhirnya, ini bukan soal PBNU atau soal “siapa boleh bicara kepada siapa”. Ini soal bagaimana kita memandang pengetahuan dan bagaimana kita memandang diri sendiri. Kalau kita percaya bahwa kebenaran itu kuat, kita tidak perlu takut pada percakapan. Kalau kita yakin iman itu kokoh, kita tidak perlu gemetar mendengar pendapat dari orang berbeda. Dan kalau kita percaya bahwa dialog adalah jalan peradaban, kita tidak boleh membiarkan politik identitas menyempitkan pikiran kita.
Hidup ini terlalu singkat untuk menakuti diri sendiri. Segelas kopi pahit saja bisa kita nikmati dengan tenang, tapi mengapa ilmu yang datang dari siapa pun tiba-tiba menjadi menakutkan? Mungkin karena kita lupa bahwa yang membuat sesuatu berbahaya bukan siapa yang berbicara, tapi apa yang kita simpan di kepala kita sendiri.
Kalau kita mau duduk sebentar, diam, dan mendengar seperti orang-orang di warung kopi yang membiarkan pikiran mengalir tanpa prasangka, mungkin kita akan sadar bahwa toleransi itu tidak hilang, hanya kita yang tidak lagi mau mencarinya.