Napak Tilas Isyaroh Pendirian NU, Seribu Jemaah Longmarch dari Bangkalan hingga Jombang
Bangkalan-, Ribuan jemaah memadati halaman Pondok Pesantren Syaikhona Kholil, Bangkalan, sejak Minggu pagi. Mereka mengikuti kegiatan Napak Tilas Isyaroh Pendirian Nahdlatul Ulama (NU) yang digelar dengan longmarch atau berjalan kaki menelusuri jejak sejarah lahirnya organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.
Kegiatan napak tilas ini diikuti lebih dari 1.000 peserta dari berbagai kalangan dan penjuru Indonesia. Titik awal keberangkatan dimulai dari Pondok Pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan menuju Pelabuhan Kamal, sebelum perjalanan dilanjutkan hingga ke Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.
Napak tilas ini secara simbolik dilepas langsung oleh Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf. Pelepasan peserta didahului dengan prosesi penyerahan tongkat dan tasbih, sebagaimana peristiwa bersejarah pada Januari 1926 silam.
Tongkat dan tasbih tersebut melambangkan isyaroh dari Syaikhona Kholil Bangkalan yang kala itu dititipkan kepada KH As’ad Syamsul Arifin untuk disampaikan kepada KH Hasyim Asy’ari di Jombang, sebagai penanda berdirinya Nahdlatul Ulama.
Dengan membawa tongkat dan tasbih, para peserta berjalan kaki dari Bangkalan menuju Pelabuhan Kamal. Selanjutnya perjalanan diteruskan menuju Kantor Pengurus Cabang NU (PCNU) pertama di Surabaya, Stasiun Gubeng, hingga akhirnya menuju Jombang.
Peserta napak tilas datang dari berbagai pondok pesantren di Jawa Timur, termasuk Pondok Pesantren Sukorejo, Situbondo. Selain peserta, tampak hadir jajaran pengurus PBNU serta sejumlah kepala daerah di Jawa Timur.
Ketua PBNU KH Yahya Cholil Staquf mengatakan, kegiatan napak tilas ini menjadi simbol keutuhan para masyayikh dan ulama, sekaligus jalan islah pasca dinamika dan konflik internal yang sempat terjadi di tubuh PBNU pusat.
“Napak tilas ini adalah pengingat bahwa NU lahir dari persatuan para ulama. Ini menjadi momentum untuk kembali merajut kebersamaan dan persaudaraan,” ujar KH Yahya Cholil Staquf.
Selain sebagai refleksi sejarah, kegiatan ini juga menjadi bagian dari rangkaian penyambutan Muktamar NU ke-35 yang direncanakan akan digelar setelah Hari Raya Idul Adha tahun ini.
Bupati Situbondo, Yusuf Rio Prayoga, yang turut mengikuti napak tilas menyatakan kesiapan Kabupaten Situbondo bersama Pondok Pesantren Sukorejo untuk menjadi tuan rumah pelaksanaan Muktamar NU ke-35 mendatang.
“Kami siap bersama Ponpes Sukorejo menjadi tuan rumah Muktamar NU ke-35,” kata Yusuf Rio Prayoga.
Sementara itu, Abdul Halim, salah satu peserta napak tilas, mengaku bangga dapat mengikuti perjalanan bersejarah tersebut. Menurutnya, napak tilas ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan spiritual untuk meneladani perjuangan para pendiri NU.
Napak tilas isyaroh pendirian NU ini diharapkan mampu memperkuat nilai persatuan, khidmat, dan perjuangan keumatan di tubuh Nahdlatul Ulama menjelang pelaksanaan muktamar mendatang.(RHM)