Bak Wanita Cantik Bersolek, Inilah Sape Sono' Madura Bernilai Ratusan Juta Rupiah
- istimewa
“Sapi sono’ yang diikutkan kontes harus dipilih yang benar-benar bagus. Sebab, akan menentukan langkah keberhasilannya dalam event bergengsi tersebut. Sepasang sapi itu perlu perawatan khusus. Jamu tradisional dan suplemen khusus, pola makan, termasuk kecantikan bulunya. Kebersihan kandang dan sapi harus benar-benar dijaga. Bahkan, ada yang diberi alas karpet. Tentu, selain itu, sapi harus sering-sering dilatih. Setiap sore biasanya sapi dipajang atau epanggung dan juga harus sering dielus-elus guna melatih mental dan menjadi penurut pada sang pemilik sapi,” ujar Mas Muhlas Arisandy, salah satu pemilik sapi sono’ bernama Mama Gisel dari Desa Jambu, Kecamatan Lenteng, Sumenep.
Sebelum sapi masuk arena kontes, sepasang sapi biasanya diarak mengelingi lapangan terlebih dahulu dengan diiringi alunan musik saronen. Lenggak-lenggok para penari senantiasa mengiringi sepasang sapi. Serta alunan musik gamelan yang disediakan oleh panitia akan menambah kemeriahan kontes sapi sono’ tersebut . Arak-arakan bertujuan guna mengenalkan kondisi lapangan kepada sang sapi yang cantik jelita, serta merupakan bagian dari awal tahapan dimulainya kontes yang sudah mendunia ini.
Alunan musik saronen dan gamelan memecah suasana. Para pemilik sapi pun bersukaria mengarak sepasang sapi yang menjadi kebanggaan mereka. Tak hanya itu, terkadang para pemilik sapi membawa penari perempuan yang dikenal dengan Sinden Sape Sono’. Hal ini bertujuan guna memeriahkan dan menghibur ribuan pasang mata saat kontes berlangsung.
Kemeriahan semakin terlihat saat kontes dimulai. Saat sapi sono’ berjalan di lintasan, sapi-sapi tersebut diiringi musik gamelan sekaligus tarian para sinden, bahkan sang pengendali sapi juga ikut menari. Lenggak-lenggok dan keserasian mengikuti irama, serta keindahan dan langkah kaki sapi yang serempak menambah nilai estetika budaya Madura.
“Di garis akhir sepasang sapi akan masuk ke sebuah gapura dari kayu berukir dan memijakkan kakinya pada balok kayu yang disebut dengan gapura finis, dan di sinilah, penentuan nilai dari para juri kepada sepasang sapi yang tengah dilombakan. Semoga budaya ini akan tetap lestari dan menjadi ikon kebanggaan Madura. Madura yang jaya dan berbudaya,” Pungkas Muhlas.