KEK: Khofifah Entah Kemana, Kapolda Enggan Kelihatan
Surabaya-, Oleh: Fauzi As
Selasa, 11 November 2025. Hari yang seharusnya menjadi momentum penting bagi masa depan ekonomi Madura. Di tengah semangat para kiai dan pemuda yang berkumpul di Madura untuk membahas arah baru industri tembakau, saat langkah di mulai sosok yang paling ditunggu justru tidak hadir - Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.
Yang tampak hanyalah satu pejabat tinggi dari militer: Pangdam V/Brawijaya, Mayjen TNI Rudi Saladin, M.A., yang membuka Seminar dan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tembakau dan Arah Baru Pertumbuhan Ekonomi Madura” di Gedung Sport Center Ahmad Yani, UIN Sunan Ampel Surabaya.
Ketiadaan Gubernur di forum strategis itu menimbulkan tanda tanya besar. Mengapa pemimpin tertinggi di provinsi yang menjadi basis industri tembakau nasional justru absen dalam forum yang membahas masa depan petani dan industri yang menopang pendapatan daerahnya sendiri?
Padahal, ide KEK Tembakau ini bukan sekadar proyek ekonomi, melainkan hasil doa dan pemikiran panjang para ulama Madura. Gagasan ini lahir dari Ponpes Al-Hamidy Banyuanyar, Pamekasan, lalu dilanjutkan pada 20 September 2025 di Pondok Pesantren Nurul Amanah, Bangkalan, di bawah bimbingan KH. Syafik dan para kiai yang tergabung dalam Badan Silaturahim Ulama Pesantren Madura (BASRA).
KEK ini adalah upaya menegakkan martabat ekonomi Madura - agar rakyatnya tak selamanya menjadi penonton dan korban dari kebijakan pusat dan provinsi yang manis di janji, pahit di realisasi.
Namun entah kenapa, Gubernur Khofifah tampaknya lebih sibuk menghadiri acara seremonial di tempat lain. Barangkali di panggung yang lebih terang lampunya dan lebih manis tepuk tangannya.
Padahal, Madura bukan panggung, tapi luka ekonomi yang terus terbuka.
Mari berbicara dengan angka. Berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur, sektor Industri Pengolahan Hasil Tembakau (IHT) berkontribusi 22,43 persen terhadap total PDRB sektor industri pengolahan Jawa Timur - menempati posisi kedua setelah industri makanan dan minuman.
Artinya, lebih dari seperlima kekuatan industri Jatim bertumpu pada tembakau dan rokok. Bahkan, kontribusi total sektor industri terhadap PDRB Jawa Timur pada Triwulan III 2025 mencapai Rp 2.536 triliun, dengan pertumbuhan ekonomi provinsi ini 5,9 persen, sedikit di atas rata-rata nasional 5,26 persen.