KEK: Khofifah Entah Kemana, Kapolda Enggan Kelihatan
Lebih jauh lagi, IHT menyumbang lebih dari Rp 230 triliun penerimaan cukai pada 2024, sekaligus menjadi penyumbang Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) sebesar Rp 3,57 triliun bagi daerah.
Di dalamnya hidup 322 ribu petani tembakau dan cengkeh, ratusan ribu buruh pabrik, serta jutaan pelaku distribusi dan ritel.
Singkatnya: tanpa tembakau, denyut ekonomi Jawa Timur akan sesak napas.
Namun ironinya, sektor yang memberi napas justru tidak pernah diajak bicara dengan serius.
Kapolda yang Tak Mengerti Tembakau
Lebih ironis lagi, dalam forum besar yang membahas KEK ini, Kapolda Jawa Timur pun tak terlihat batang hidungnya. Padahal, bicara tentang tembakau bukan semata soal ekonomi dan pertanian, tetapi juga menyangkut hukum, keamanan, dan pengawasan distribusi - ranah yang seharusnya ia pahami.
Aneh, karena aparat kepolisianlah yang selama ini paling sering turun ke lapangan “menertibkan” rokok tanpa cukai, razia kios kecil, dan mengejar petani yang salah label. Tapi begitu bicara soal pembangunan besar yang bisa menata industri ini secara berkeadilan, mereka menghilang seolah tak mengerti bahwa rokok adalah urusan mereka juga.
Lebih getir lagi, banyak pihak tahu - tanpa perlu menyebut nama - bahwa di lapangan, justru oknum aparatlah yang sering menikmati keuntungan dari peredaran rokok ilegal, dari setoran kecil di pinggir gudang hingga pembiaran sistematis di pasar.
Kapolda semestinya hadir, bukan untuk menjaga podium, tetapi untuk membersihkan sistem yang selama ini kerap menyudutkan petani dan pelaku industri kecil.
Namun absennya Kapolda membuat publik bertanya: mungkin beliau mengira tembakau itu sekadar urusan cengkeh dan gudang, bukan tentang keadilan dan penghidupan jutaan rakyat kecil.
Sementara itu, Gubernur Khofifah tampak nyaman dalam politik seremonial: tersenyum di depan kamera, menghadiri peresmian gedung, dan menyapa rakyat dengan mikrofon. Tapi begitu bicara soal hal-hal substansial - seperti KEK Tembakau yang menyangkut nasib ekonomi pulau termiskin di Jawa Timur - ia seolah memilih diam.
Madura hari ini adalah metafora dua tetes madu bagi negara: