Kredibilitas Bea Cukai Madura Dipertanyakan, Menteri Purbaya Ditantang Evaluasi Total
Pamekasan-, Polemik seputar industri rokok di Jawa Timur kembali mencuat, terutama di wilayah Madura yang selama ini dikenal sebagai salah satu pusat produksi rokok, baik legal maupun ilegal. Selain maraknya pembuatan rokok tanpa izin, dugaan praktik “ternak pita cukai” juga disebut semakin menonjol dan sulit diberantas.
Hidayat, salah satu tokoh muda Madura, menyoroti persoalan tersebut dan mempertanyakan kinerja aparat Bea Cukai di wilayah Madura. Menurutnya, meski sudah terjadi pergantian Menteri Keuangan, Dirjen Bea Cukai, hingga Kepala Bea Cukai Madura, kondisi di lapangan tidak menunjukkan perubahan berarti.
“Waktu silih berganti, beberapa figur pun sudah berganti, tapi nihil hasilnya. Ini tugas berat Menteri Purbaya. Mampukah mengatasi Madura sampai ke akar-akarnya dengan gagah berani dan mengesampingkan kekuatan politik di siklus industri rokok ilegal Madura? Kami nantikan aksi beliau,” tegas Hidayat.
Ia juga menduga kuat bahwa bertahannya industri rokok ilegal di Madura bukan sekadar karena lemahnya pengawasan, tetapi adanya campur tangan oknum serta kepentingan politik yang membuat persoalan ini terus berulang.
“Polemik ini awet karena memang ada pengawetnya. Upeti dan semacamnya diduga kuat telah berlangsung sangat lama. Oknum hingga nuansa politik campur aduk. Kami akan ungkapkan ke publik secara berkala,” ujarnya.
Tak hanya terkait peredaran rokok ilegal, Hidayat juga menyoroti persoalan perpajakan. Ia menyebut masih banyak pengusaha rokok di Madura yang menunggak pajak dengan nilai yang dinilainya fantastis.
“Kebocoran pendapatan negara, pajak pun juga tidak dibayar. Pak Purbaya kira-kira berani nggak ya,” pungkasnya.