PBNU, Pater Barkowitz, dan Toleransi yang Hilang

Sakib Mahmud Penulis Buku Humanisme Samawi
Sumber :

 

Plafon Kelas Ambruk, Siswa SDN Kramat 1 Bangkalan Terpaksa Belajar di Mushola

Masalahnya bukan Barkowitz. Masalahnya adalah kita, yang semakin mudah curiga, semakin lekas marah, semakin gemar menempelkan label pada apa pun yang kita tidak mengerti. NU sejak dulu hidup dengan jendela terbuka. Pesantren tumbuh dari perpaduan tradisi fikih, kalam, filsafat, logika, hingga ilmu-ilmu yang lahir dari tangan para ilmuwan non-Muslim. Tapi sekarang, tiba-tiba ada yang ingin menutup jendela itu rapat-rapat, seolah udara luar pasti beracun.

 

Nelayan Sumenep Cemas, Tumpahan CPO Menyebar Luas Terbawa Arus

Gus Yahya berjalan di jalur yang tidak populer—jalur yang percaya bahwa Islam tidak akan hancur hanya karena berdialog dengan pikiran lain. Justru ia akan hancur kalau ditutup rapat-rapat seperti ruangan yang tidak pernah dibersihkan. Orang bisa pingsan di dalamnya. Hadirnya Barkowitz, setuju atau tidak, adalah cermin dari keberanian membuka jendela itu.

 

Dua Ular Piton Bersarang di Plafon TK, Damkar Bangkalan Lakukan Evakuasi

Pada akhirnya, ini bukan soal PBNU atau soal “siapa boleh bicara kepada siapa”. Ini soal bagaimana kita memandang pengetahuan dan bagaimana kita memandang diri sendiri. Kalau kita percaya bahwa kebenaran itu kuat, kita tidak perlu takut pada percakapan. Kalau kita yakin iman itu kokoh, kita tidak perlu gemetar mendengar pendapat dari orang berbeda. Dan kalau kita percaya bahwa dialog adalah jalan peradaban, kita tidak boleh membiarkan politik identitas menyempitkan pikiran kita.

 

Hidup ini terlalu singkat untuk menakuti diri sendiri. Segelas kopi pahit saja bisa kita nikmati dengan tenang, tapi mengapa ilmu yang datang dari siapa pun tiba-tiba menjadi menakutkan? Mungkin karena kita lupa bahwa yang membuat sesuatu berbahaya bukan siapa yang berbicara, tapi apa yang kita simpan di kepala kita sendiri.

 

Kalau kita mau duduk sebentar, diam, dan mendengar seperti orang-orang di warung kopi yang membiarkan pikiran mengalir tanpa prasangka, mungkin kita akan sadar bahwa toleransi itu tidak hilang, hanya kita yang tidak lagi mau mencarinya.